Maestro

Salam di bulan sembilan 2017, Sidang Pembaca!

Jauh dari pemberitaan dan sorotan besar-besaran, para maestro berkiprah, berkarya, dan bertekun dalam rupa-rupa seni tradisi Indonesia. Kerap kekurangan apresiasi di dalam negeri, mereka bertahan melestarikan seni tradisi yang digerus kuat oleh seni moderen dari luar negeri. Daya tahan mereka, dan juga kepiawaian mereka, memasok ilham rancak bagi kita selaku satu bangsa.

Untuk menambahi apresiasi kepada mereka, bulan ini Komunitas Ubi (Kombi) menampilkan sosok lima maestro seni tradisi Indonesia. Lima peladang mengisahkan riwayat, pencapaian, dan teladan mereka dalam lima tulisan yang membukakan mata kita bahwa orang-orang kreatif dan tangguh seperti mereka ada di antara kita dan patut dihargai.

Dengan cinta Chan Umar mengubah keping-keping kayu menjadi ukiran-ukiran nan menawan. Sang maestro ukir Minangkabau, ungkap Victor Sihombing, bertekun mengukir di depan merosotnya minat kepada seni tradisi dan menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai penegas identitas.

Dengan konsisten Mak Coppong menari gemulai dan penuh daya hidup. Sang maestro tari pakarena, ungkap Samsu Sempena, bertekun menari di depan kurangnya perhatian kepada seni tradisi dan menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai pewadah kapasitas estetis yang dikaruniakan Tuhan.

Dengan pantang menyerah Gusti Jamhar Akbar menabuh rebana mengiringi tuturannya. Sang maestro lamut, ungkap Herdiana Situmorang, bertekun bertutur di depan tersisihnya seni tradisi oleh seni moderen dan menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai penyampai ajaran baik.

Dengan bersemangat Encim Masnah menguasai dan menyanyikan lagu-lagu klasik gambang kromong. Sang maestro, ungkap S.P. Tumanggor, bertekun menyanyi di depan pudarnya pamor seni tradisi dan menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai penyemarak hidup.

Dengan regenerasi dan inovasi Jeremias Ougust Pah Maestro mengembangkan alat musik sasando. Sang maestro sasando, ungkap Stefani Krista, bertekun bermain sasando di depan minimnya peluang bagi seni tradisi dan menunjukkan bagaimana seni berfungsi sebagai penghibur yang menyenangkan.

Kisah-kisah mereka membanggakan sekaligus mengharukan. Satu hal yang dapat kita semua lakukan untuk menghargai para maestro seperti mereka adalah menerapkan etos kemaestroan dalam karya kita di bidang gelutan masing-masing—bidang apa pun. Ini akan membuat bangsa kita dipenuhi maestro di berbagai sektor kehidupan.

Selamat ber-Ubi.

 

Komunitas Ubi

Penjenang Kombi

Penjenang Kombi

Penjenang dari Komunitas Ubi.
Penjenang Kombi

Latest posts by Penjenang Kombi (see all)