Kepala

Salam di bulan ketujuh 2018, rekan pembaca!

Di berbagai negeri di seluruh dunia tidak sedikit orang Kristen yang telah naik menjadi kepala negara atau petinggi negara. Sebagian dari mereka tampak memiliki keyakinan kristiani yang kuat, tapi itu rupanya tidak menjamin mereka dan negara mereka (di bawah pemerintahan mereka) terhindar dari masalah. Fakta ini sebetulnya mengajari orang Kristen untuk berhati-hati dengan anggapan bahwa kalau kepala negara adalah “anak Tuhan”, dikenan Tuhan, maka segalanya akan baik di negeri.

Bukan berarti Tuhan tidak memberkati pemimpin saleh—jika salehnya terbit dari batin, bukan sekadar polesan lahiriah. Tapi realitas dunia yang rumit dan tak sempurna menuntut lebih dari sekadar kesalehan jika pemimpin ingin berhasil. Maka bulan ini lima peladang Komunitas Ubi (Kombi) menulis tentang itu sembari menyajikan kisah lima orang Kristen yang pernah menjadi kepala negara dan yang pengalamannya menunjukkan bahwa “anak Tuhan” tidak pasti jaya selalu.

Marc Ravalomanana tampil sebagai kepala negara Madagaskar di tahun 2001 dan 2006. Walau terbilang sukses sebagai pengusaha dan presiden, ia terpaksa meletakkan jabatan setelah dikudeta oleh rakyat dan lawan politiknya. Dari kisahnya Herdiana Situmorang menunjukkan bahwa pemimpin yang relijius belum tentu mulus-mulus saja jalannya.

George W. Bush meraih kedudukan sebagai kepala negara Amerika Serikat (AS) di tahun 2001 dan 2005. Ia menjadi presiden AS dengan peringkat kepuasan rakyat tertinggi sepanjang sejarah AS tapi kemudian mengakhiri jabatan dengan peringkat kepuasan rakyat yang tergolong terendah. Dari kisahnya S.P. Tumanggor menunjukkan bahwa pemimpin yang “lahir kembali” pun bisa mengalami naik turun.

Lee Myung Bak naik sebagai kepala negara Korea Selatan (Korsel) di tahun 2008. Ia adalah eksekutif bisnis pertama yang menjadi presiden Korsel, tapi kemudian berurusan dengan hukum karena kasus-kasus suap, penggelapan, dan penghindaran pajak. Dari kisahnya Febroni Purba menunjukkan bahwa pemimpin yang alim pun bisa saja tersandung kasus korupsi.

Lech Walesa menggapai kedudukan sebagai kepala negara Polandia di tahun 1990. Ia mashur sebagai tokoh gerakan antikekerasan yang menumbangkan pemerintahan komunis Polandia, tapi nama baiknya kemudian rusak oleh tudingan bahwa ia pernah menjadi mata-mata polisi komunis. Dari kisahnya Efraim Sitinjak menunjukkan bahwa pemimpin yang beriman tak terjamin terhindar dari kontroversi.

Olusegun Obasanjo muncul sebagai kepala negara Nigeria di tahun 1999 dan 2003. Walau tergolong berhasil memajukan negerinya, ia tidak berhasil mengatasi beberapa masalah besar seperti korupsi, pertikaian antaragama, dan kemiskinan. Dari kisahnya Victor Sihombing menunjukkan bahwa pemimpin yang saleh tidak melulu menang atas masalah.

Kisah setiap kepala negara di atas berbicara bahwa kesalehan itu penting tapi bukan kartu sakti untuk luput dari segala masalah. Meskipun saleh, di dunia yang tak sempurna ini pemimpin bisa salah langkah, tak berprestasi, jatuh ke dalam dosa, mencetus kontroversi, dan gagal. Namun, kesalehan sejati akan bisa menolongnya melewati masalah dengan sikap yang tepat. Ini saja mengajari umat Kristen untuk menjauhi pikiran naif bahwa “anak Tuhan” pasti jaya selalu.

Selamat ber-Ubi.

Komunitas Ubi