Upacara

Salam di bulan kedelapan 2018, rekan pembaca!

Tanggal “sakti” bangsa Indonesia, 17 Agustus, telah datang kembali. Corak merah dan putih semarak di seluruh tanah air. Aroma nasionalisme semerbak di sana-sini. Upacara-upacara bendera pun digelar di mana-mana oleh banyak komunitas dan kalangan. Dan seiring Sang Merah Putih naik ke puncak tiang, angan kita diajaknya naik merenungkan berbagai hal penting tentang Indonesia tercinta.

Empat dari hal-hal penting itu dikemukakan oleh empat peladang Komunitas Ubi (Kombi) dalam empat tulisan yang merayakan kemerdekaan RI. Tulisan-tulisan ini dikemas dengan kisah-kisah menarik tentang upacara-upacara bendera unik yang diselenggarakan di air—zat penyusun dua pertiga wilayah Indonesia. Melaluinya pula kita diingatkan kepada arti penting perairan Indonesia dan hakikat upacara bendera secara umum.

Samsu Sempena bertutur tentang upacara bendera bawah laut di Raja Ampat dan di Birah-birahan yang masing-masing diadakan oleh sejumlah anggota Bhayangkari dan POSSI. Di kedalaman biru itu mereka memperingati HUT RI dengan cinta bergelora terhadap keindahan dan ekosistem laut Indonesia. Setiap upacara bendera pun sebenarnya diselenggarakan untuk menggelorakan cinta kita kepada tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.

Victor Samuel berkisah tentang upacara-upacara bendera di bawah permukaan Danau Lut Tawar dan Danau Matano yang diadakan oleh komunitas-komunitas selam setempat. Di keheningan itu mereka khusyuk memperingati kemerdekaan RI yang telah diperjuangkan oleh para kesuma bangsa. Setiap upacara bendera pun membawa kita berhening cipta sejenak di tengah deru kesibukan hidup untuk mengingat dan meneladani juang para pahlawan.

Ebenhard Marpaung bertutur tentang upacara-upacara bendera di Sungai Deli dan Sungai Unda yang diadakan oleh warga kecamatan-kecamatan setempat. Di aliran arus itu mereka memperingati HUT RI sambil berkhidmat terhadap ide-ide keindonesiaan. Setiap upacara bendera pun sebetulnya dimaksudkan sebagai waktu khusus untuk berkhidmat kepada keindonesiaan di tengah dinamika zaman dan segala tantangannya.

S.P. Tumanggor berkisah tentang upacara-upacara bendera di air dalam gua, di akuarium ikan hiu, dan di panggung permukaan laut yang diadakan oleh berbagai elemen masyarakat Indonesia. Di air tawar dan asin yang telah diakrabi orang Nusantara sejak lama itu mereka berbulat tekad memperingati kemerdekaan RI. Setiap upacara bendera pun mendorong kita berbulat tekad untuk menjaga dan memajukan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia tercinta.

Hari ini Sang Merah Putih berkibar megah di berjuta tiang di seantero negeri. Upacara-upacara bendera, yang umum ataupun yang unik, berlangsung penuh takzim—entah di darat atau di air. Dan hati setiap patriot Indonesia mensyukuri kemerdekaan negeri dalam gelora cinta, kenangan terhadap para pendahulu, kekhidmatan, dan bulat tekad terhadap kejayaan bangsa. Itulah upacara bendera yang hakiki—upacara di hati.

Selamat ber-Ubi dan salam merdeka!

Komunitas Ubi