Konstruksi

Salam di bulan keempat 2018, rekan pembaca!

Walau negara kita belum juga masuk dalam golongan negara maju, di antara kita terdapat tidak sedikit cendekiawan dengan pikiran-pikiran konstruktif yang cemerlang. Buah pikir mereka melahirkan karya-karya yang berkelas, bahkan diakui dunia. Lewat karya-karya itu mereka menunjukkan apa arti kata “terpelajar”.

Jelas kita patut mengapresiasi mereka—dan karya-karya konstruktif mereka. Maka bulan ini empat peladang Komunitas Ubi (Kombi) menulis tentang empat konstruksi unik yang digagas dan dipatenkan oleh beberapa cendekiawan Indonesia. Karya-karya mereka mengesankan dan memanggil kaum terpelajar Indonesia untuk memajukan negara dengan berpikir konstruktif.

Berpikir konstruktif adalah berpikir gesit. Ini diulas Helminton Sitanggang berdasarkan kecepatan Sedyatmo menemukan jenis fondasi baru yang cocok untuk tanah lembek menjelang Asian Games di tahun 1962. Didesak waktu, ia berpikir cepat dan akurat lalu menghasilkan apa yang disebut fondasi cakar ayam.

Berpikir konstruktif adalah berpikir imajinatif. Ini dikupas Febroni Purba berdasarkan imajinasi Tjokorda Raka Sukawati tentang cara membangun bahu beton jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas. Imajinasi itu, yang didapatnya setelah mengamati badan mobil berputar dengan bertopangkan dongkrak, membuahkan apa yang disebut teknik sasrabahu.

Berpikir konstruktif adalah berpikir tentang keefisienan. Ini dibahas Stefani Krista berdasarkan ketekunan Soetjipto Sadjono dan Ryantori dalam merancang konstruksi alas bangunan yang kuat, hemat biaya, padat karya, dan praktis. Ketekunan mereka terbayar dengan lahirnya apa yang disebut fondasi sarang laba-laba.

Berpikir konstruktif adalah berpikir merakyat. Ini dijelaskan S.P. Tumanggor berdasarkan kesigapan Sri Murni Dewi dalam meneliti dan mengembangkan bambu—tumbuhan yang mudah ditanam di mana-mana—sebagai tulangan beton atau pelat komposit beton. Upah dari kesigapannya adalah konstruksi bambu yang diunjukkannya kepada rakyat semesta.

Para cendekiawan itu, beserta karya-karya hebat mereka, merupakan sampel-sampel yang harus digandakan. Dengan jumlah penduduk besar, sudah sepantasnya Indonesia memiliki banyak sekali cendekiawan dengan temuan-temuan unik, orisinal, dan mendunia. Bahwa ini belum terjadi (juga) merupakan pecutan tersendiri bagi kaum terpelajar Indonesia untuk giat berpikir dan berkarya konstruktif.

Selamat ber-Ubi.

Komunitas Ubi