Rindu Buah Indonesia di Jepang

Oleh Samsu Sempena

Di tahun 2010, tahun ketiga saya sebagai mahasiswa, saya diberi kesempatan oleh kampus mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang. Inilah pengalaman pertama saya tinggal di luar Indonesia dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, sampai hari terakhir sebelum berangkat dari Kota Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta, saya menyantap banyak-banyak makanan rumah buatan mama, terutama sajian penutup buah-buahan segar kegemaran saya.

Hari yang ditunggu pun tiba. Setelah melalui perjalanan panjang di udara, saya mendarat di Bandara Internasional Kansai, di Teluk Osaka. Perjalanan berlanjut dengan kereta bawah tanah ke Kota Osaka. Saat itu musim gugur sedang beralih menuju musim dingin di Jepang, dan udara terasa sedikit lebih dingin dari udara Bandung. Meski tak mengenal siapa-siapa di Jepang, sambutan hangat kawan-kawan baru di Universitas Osaka membuat saya merasa tenteram menetap sementara di negeri sakura.

Beberapa bulan berlalu dan saya semakin kagum saja akan Jepang: transportasi publiknya nyaman dan tepat waktu, udaranya minim polusi, makanan-makanan khasnya lezat, juga pergantian musimnya semarak. Tidak seperti Indonesia yang beriklim tropis, Jepang adalah negara subtropis yang punya empat musim. Di musim gugur, cuaca masih bersahabat untuk bepergian hanya dengan baju hangat. Saya terpesona mengamati daun momiji1 menjadi kemerahan dan saya menikmati buah kaki alias buah kesemek ala Jepang.2

Di musim dingin, salju menyelimuti segala sesuatu dan membuat pemandangan serba putih. Ke mana-mana badan harus berlapis mantel tebal. Pada saat seperti itu, bersepeda atau berjalan kaki ke kampus sering membuat nafsu makan saya melonjak. Untunglah berbagai makanan lezat tersedia di Osaka—dari jajanan pasar sampai sajian kelas restoran. Akan tetapi, saya sangat merindukan buah-buahan tropis Indonesia. Buah seperti manggis, rambutan, duku, durian, dan lainnya sukar ditemukan di Jepang. Kalaupun ada, harganya mahal sekali karena diimpor dari negara lain. Kalau dihitung-hitung, beli buah tropis bisa sama harganya dengan satu dua kali makan. Alhasil saya menahan diri untuk tidak sering-sering menikmati bebuahan pelipur rindu itu.

Dan ternyata bukan hanya saya, orang Indonesia, yang rindu buah-buahan Indonesia, tapi orang Jepang juga! Ken Ito, pemandu dalam perjalanan wisata yang diselenggarakan kampus, adalah seorang pensiunan yang telah bekerja beberapa belas tahun di Indonesia. Saat saya tanyakan apa makanan kegemarannya di Indonesia, ia mengungkapkan kerinduannya kepada durian. Di Indonesia dia bisa mendapatkan buah eksotik itu dengan mudah dan murah, tapi tidak demikian di Jepang.

Saya kira hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia punya peluang pasar besar untuk mengekspor komoditas khasnya ke mancanegara, termasuk Jepang. Buah-buahan tropis tentu merupakan salah satu komoditas khas itu. Sebetulnya pemerintah Jepang pun mengharapkan lebih banyak pasokan buah dari Indonesia. Akan tetapi kita belum bisa memenuhinya karena Jepang menerapkan standar tinggi untuk kualitas produk yang diimpornya. Selain itu, dari segi pamor, komoditas Indonesia masih kalah dibanding komoditas negara Asia Tenggara lain, misalnya Thailand dan Vietnam.3

Standar tinggi Jepang untuk produk impor sesungguhnya mencerminkan tingginya tingkat kemajuan dan, karenanya, standar hidup bangsa Jepang. Maka tak salah jika saya katakan bahwa Jepang sudah lebih “berbuah” dalam berbagai hal dibanding Indonesia dan warganya beruntung menikmati “buah-buah” itu. Akan tetapi, bagi saya, rumah tetaplah rumah, Indonesia tetaplah “tanah air beta.” Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang dapat menggantikannya, sekalipun kaki ini menapak di negeri-negeri lain yang “mashyur permai dikata orang.” Saya lahir, dibesarkan, dan ingin menikmati hari tua di Indonesia. Saya pun ingin melihat Indonesia “berbuah” banyak seperti Jepang dan bangsa-bangsa maju lainnya.

Setelah pulang ke Indonesia, puaslah saya menikmati buah-buahan tropis kegemaran saya. Dalam pada itu, saya juga terus merindu untuk dapat menikmati “buah-buah” lezat seperti transportasi publik yang nyaman dan tepat waktu, tata kota yang terencana baik, serta tingkat kesejahteraan rakyat yang tinggi seperti di Jepang. Bilakah kerinduan ini akan terwujud?

.

Samsu Sempena adalah seorang praktisi teknologi di bidang perjalanan yang tinggal di DKI Jakarta.

.

Catatan

1 Momiji (Acer palmatum) adalah pohon mapel khas Asia Timur yang daunnya berbentuk menjari dan berubah warna dari hijau menjadi merah pada musim gugur. Lihat “Acer palmatum” dalam Wikipedia. <http://en.wikipedia.org/wiki/Acer_palmatum>.

2 Pohon kaki atau pohon kesemek (Diospyros kaki) adalah pohon asli RRC yang menyebar ke Jepang dan Indonesia. Jepang menjadi pengekspor buah kaki terbesar di dunia setelah RRC dan Korea. Lihat “Kesemek” dalam Wikipedia. <http://id.wikipedia.org/wiki/Kesemek >; “Diospyros kaki” dalam Wikipedia. <http://en.wikipedia.org/wiki/Diospyros_kaki>; “Persimmon” dalam Wikipedia.  <http://en.wikipedia.org/wiki/Persimmon>.

3 “Di Jepang Produk Ekspor RI Kalah Bersaing dengan Thailand” dalam Tribunnews 12.09.12. <http://www.tribunnews.com/2012/09/12/di-jepang-produk-ekspor-ri-kalah-bersaing-dengan-thailand>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *