Regenerasi dan Seleksi Atlet: Jalan Pengharuman Nama Bangsa

Oleh Febroni Purba

Pertandingan olahraga adalah salah satu wahana hebat untuk mengharumkan nama bangsa di dunia. Ketika suatu bangsa mampu menang atas bangsa lain dalam pertandingan olahraga—atau lebih lagi: mampu menjadi juara dunia—maka harumlah nama bangsa pemenang itu.

Sayangnya, kinerja olahraga Indonesia hari ini belum mampu mengharumkan nama Indonesia secara maksimal di dunia. Justru secara umum tampak gejala kemerosotan prestasi. Cabang bulu tangkis belum mampu mengulang kejayaan di masa lalu. Cabang panahan belum mampu meraih medali kembali sejak olimpiade tahun 1988. Cabang sepak bola sempat dilanda konflik berkepanjangan di tingkat pengurus sehingga pembinaan terbengkalai. Cabang-cabang lain pun mengalami penurunan.

Penyebab payahnya prestasi di dunia olahraga Indonesia berkisar, antara lain, pada dua hal: regenerasi dan seleksi atlet. Pada cabang sepak bola, pertikaian pengurus PSSI membuat regenerasi terlantar sehingga prestasi tim nasional Indonesia tetap tidak menanjak di ajang internasional. Cabang bulu tangkis belum berhasil memunculkan generasi baru sekaliber generasi Rudy Hartono dan Liem Swie King atau generasi Susi Susanti dan Taufik Hidayat yang meraih medali emas olimpiade.

Para atlet senior bulu tangkis punya komentar soal regenerasi. Susi Susanti, peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, menilai bahwa regenerasi atlet bulu tangkis putri berlangsung terlalu lambat.1Sementara itu, Taufik Hidayat, peraih medali emas Olimpiade Athena 2004, menyatakan bahwa saat ini Asia Tenggara sudah tak lagi menelurkan bakat-bakat baru dalam perbulutangkisan. “Regenerasi yang bagus,” katanya, “cuman [terjadi di] China aja, yang lain ga ada. Kita ya punyanya itu-itu aja.” 2

Selain terseoknya proses regenerasi atlet, proses seleksi atlet yang tak adil juga mengganjal prestasi olahraga Indonesia. Seorang pemuda mendapat pengalaman pahit ketika mengikuti seleksi tahap akhir di sebuah klub sepak bola bergengsi. Dari segi kualitas ia sudah hebat, hanya saja ia tak mampu menjawab pertanyaan panitia seleksi, “Siapa yang membawa Anda ke sini?” Jadilah dia gagal masuk klub lantaran tidak ada “siapa-siapa” —orang penting atau pejabat—yang “membawa”nya.

Nepotisme macam itu dalam dunia olahraga tentu bisa berdampak merusak. Bibit atlet berbakat bisa jadi tidak punya harapan untuk diasah dalam pembinaan atau untuk berkiprah demi keharuman nama bangsa hanya gara-gara tidak kenal “siapa-siapa.” Kalau sudah begitu, Indonesia merugi sendiri karena tidak menerjunkan atlet terbaik untuk bertanding. Tepatlah kata Susi Susanti, “Rencanakan dan kirim pemain yang benar, pilih turnamen yang sesuai kelas mereka. Kalau perlu setiap mau berangkat turnamen harus diseleksi dulu, jangan dijatah. Sayang kan, buang-buang duit.”3

Ya, kalau regenerasi tandas, prestasi pun kandas. Di Cina, bakat olahraga anak dikembangkan sejak usia dini supaya siap mengganti atlet-atlet pendahulunya. Pemerintah Cina turun tangan merekrut bibit-bibit atlet lewat pekan olahraga sekolah dasar. Selain itu, bulu tangkis dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah-sekolah Negeri Tirai Bambu tersebut.4 Tak heran Cina sering memboyong medali emas bulu tangkis di berbagai turnamen dunia, termasuk olimpiade.

Dan kalau seleksi atlet tidak adil, gelar juara pun nihil. Kemajuan prestasi olahraga berbanding lurus dengan atlet berkualitas super. Seleksi atlet yang benar, menurut Fung Permadi, mantan pebulu tangkis Indonesia, tidak bicara soal kuantitas atlet, tapi soal memilih bibit-bibit atlet kualitas terbaik yang “tangguh, pantang menyerah, memiliki daya juang tinggi dan bermental juara.”5 Jelas itu lebih menjamin gelar juara daripada atlet “jatahan” hasil nepotisme.

Ketika regenerasi atlet berlangsung mulus, ketika seleksi atlet berjalan adil dan benar, Indonesia akan melihat anak-anaknya yang berbakat di bidang olahraga menjulang dalam prestasi. Dan apakah arti julangan prestasi itu kalau bukan pengharuman bagi nama Indonesia sendiri?

.

Febroni adalah seorang jurnalis yang tinggal di DKI Jakarta.

.

Catatan

1 Ade Jayadireja. “Susy Susanti Sebut Regenerasi Atlet Putri Lambat” dalam situs Bolanews.com. <www.bolanews.com/liga/indonesia/read/9810-Susy-Susanti-Sebut-Regenerasi-Atlet-Putri-Lambat.html>.

2  “Taufik Hidayat: Regenerasi Bulutangkis Asia Tenggara Mandek” dalam situs Berita Satu.com, 18.11.2011. <http://www.beritasatu.com/olahraga/17972-taufik-hidayat-regenerasi-bulutangkis-asia-tenggara-mandek.html>.

3 Monalisa. “Susi Susanti: Indonesia kekurangan bibit tunggal putri” dalam situs Antaranews.com. <http://www.antaranews.com/berita/391102/susi-susanti-indonesia-kekurangan-bibit-tunggal-putri>.

4 “PBSI: Indonesia Harus Benahi Regenerasi Atlet Bulu Tangkis” dalam situs Republika online, 29.05.2012. <http://www.republika.co.id/berita/olahraga/raket/12/05/29/m4ryui-pbsi-indonesia-harus-benahi-regenerasi-atlet-bulu-tangkis>.

5 “Penghargaan Buat Ahsan, Beasiswa Buat Calon Atlet” dalam situs Kompas.com. 28.06.2013. <http://olahraga.kompas.com/read/2013/06/28/0000292/Penghargaan.Buat.Ahsan.Beasiswa.Buat.Calon.Atlet>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *