Natal dan Pencitraan

Oleh Victor Samuel

Hari ini istilah “pencitraan” terdengar sumbang di kuping kita. Bagi kita, pencitraan hanyalah akal bulus para politisi. Menjelang tahun pemilihan, kita semakin curiga mendengar kata-kata manis dan melihat pertunjukan mendadak-merakyat yang mereka tebar. “Ah,” gumam kita ketus, “paling-paling pencitraan.”

Istilah “pencitraan” memang populer belakangan ini, namun idenya tidak baru. Dua ribu tahun lalu, Allah pun melakukan pencitraan. Alkitab bersaksi bahwa Allah mencitrakan diri-Nya melalui sesosok bayi yang dinamai Yesus. Allah adalah roh sehingga Ia tidak bisa dilihat manusia. “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah,” demikian Rasul Yohanes bersaksi, “tetapi Anak Tunggal Allah, … Dialah yang menyatakan-Nya.”1 Yesus sendiri berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa.”2

Alkitab menyatakan bahwa di dalam Yesus “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”3 Yesus menunjukkan kuasa Allah saat Ia mengendalikan angin ribut, mengampuni dosa, dan membangkitkan orang mati. Yesus memperlihatkan keadilan Allah ketika Ia mencela kemunafikan pemimpin-pemimpin agama dan mengobrak-abrik lapak-lapak pedagang di Bait Allah. Yesus mempertontonkan kasih Allah dengan datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,” bahkan “untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”4 Yesus benar-benar mencitrakan Allah.

Demikianlah istilah “pencitraan” sebetulnya tidak harus bernuansa sumbang. Hari ini istilah itu terdengar sumbang ketika terkait dengan dunia politik karena banyak politisi berlomba-lomba menjalankan pencitraan yang dibuat-buat untuk merebut suara rakyat. Pencitraan mereka mempercantik bungkus tanpa memedulikan isi yang bulus. Habis manis sepah dibuang: setelah jabatan diraih, janji kampanye dilupakan, anggaran pembangunan disalahgunakan, kepentingan rakyat disingkirkan. Pencitraan menjadi pengelabuan massa.

Mirip para politisi, Yesus melakukan banyak hal yang merakyat: menyembuhkan orang cacat, memberi makan ribuan orang, dan membangkitkan orang mati. Alhasil, Ia dikenali dan dicintai rakyat—hal yang juga disasar para politisi lewat segala pencitraan mereka. Namun, berbeda dengan pencitraan mereka, pencitraan Yesus utuh dan tidak dibuat-buat, berhulukan keluhuran budi-Nya dan bermuarakan kebaikan orang lain, bukan keuntungan diri sendiri. Yesus melakukan pencitraan bukan karena ingin diterima orang banyak, melainkan karena “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.”5 Bagi Yesus, pencitraan bukan pengelabuan massa, melainkan pengamalan budi.

Orang Kristen—kita yang sudah melihat Yesus dengan mata iman—dipanggil pula untuk meneladani Yesus menjadi pencitra Allah: mempertontonkan sifat-sifat-Nya yang penuh keadilan dan kasih. Pencitraan kita bukan “pencitraan kulit” ala banyak politisi. Kita tidak dipanggil untuk sekadar mempertontonkan simbol-simbol agama: stiker “Jesus inside di kaca mobil kita, kalung salib mengkilat di leher kita, ataupun kalimat-kalimat bernuansa kristiani di mulut kita. Kita juga tidak hanya dipanggil untuk mencitrakan kekristenan kita dengan fasih mempercakapkan ajaran-ajaran Kristen atau memenangkan debat-debat antaragama.

Yesus memerintahkan, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik.”6 Rasul Paulus juga berkata, “Hendaklah semua orang dapat melihat sikapmu yang baik hati.”7 Kita dipanggil untuk mencitrakan “perbuatan” dan “sikap” yang baik kepada dunia, tentunya bukan supaya orang-orang memberi sorak, melainkan—seperti Yesus—karena hati yang tergerak.

Dunia ini terlalu sumpek dengan kisah kebencian dan ketidakadilan; dunia butuh disegarkan dengan kisah kasih dan keadilan. Janganlah kita abai, apalagi memperparah. Sebaliknya, mari kita citrakan Allah—tebarkan benih kasih dan dan labuhkan jangkar keadilan—dalam lingkup keluarga, gereja, bangsa, dan dunia, di segala bidang pekerjaan.

Hari Natal adalah hari pencitraan. Di tengah masyarakat yang semakin jenuh dengan pencitraan luar belaka, kelahiran Yesus memberi kita teladan tertinggi tentang pencitraan luhur yang bersumber dari dalam.

Selamat Natal, selamat menjalankan pencitraan di segala bidang panggilan kita.

.

Victor Samuel adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang tinggal di Stockhol, Swedia.

.

Catatan

1 Yohanes 1:18. Sebutan “Anak Tunggal Allah” tidak berarti bahwa Yesus adalah anak biologis dari Allah. Sebaliknya, sebutan itu menekankan hubungan rohaniah ayah-anak antara Allah dan Yesus.

2 Yohanes 14:9.

3 Kolose 2:9.

4 ­Markus 10:45.

5 Matius 14:14, tekanan oleh penulis.

6 Matius 5:16.

7 Filipi 4:5 dalam terjemahan versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *