Bahasa dan Gereja

Oleh S.P. Tumanggor

Bangsa Indian, penduduk asli Benua Amerika, punya kemiripan dengan bangsa Indonesia, yaitu sama-sama terdiri dari beragam puak dan bahasa. Sejak negeri Indian ditemukan orang Eropa di abad ke-16, mereka ditaklukkan dan dipaksa jadi “beradab” ala Eropa. Di Amerika Utara (Kanada dan AS masa kini), pemaksaan itu dilakukan antara lain lewat program sekolah asrama Indian di abad ke-19. Pemerintah Kanada dan AS mengambil anak-anak Indian dari keluarganya lalu memasukkan mereka ke sekolah-sekolah asrama untuk disterilkan dari budaya dan bahasa Indian.1

Gilanya, pemerintah bekerja sama dengan lembaga agama, yakni gereja, dalam program pensterilan itu. Gereja mengelola sekolah-sekolah asrama Indian2 sambil mengabaikan pesan keragaman budaya dan bahasa yang dikumandangkan Alkitab. Di sekolah-sekolah itu rambut panjang khas Indian (pada anak pria) dipotong, baju dan nama Indian diganti baju dan nama Eropa, tradisi Kristen ala Eropa diajarkan, dan bahasa-bahasa Indian dilarang.3 Anak-anak yang tepergok berbahasa Indian akan dipukul guru atau mulutnya digosok dengan cairan alkali atau larutan klorin.4

Demikianlah lembaga agama—istimewanya agama yang mengklaim membawa kabar baik bagi segala bangsa—turut berperan dalam menggusur budaya dan bahasa Indian. Program sekolah asrama Indian, yang dikelola gereja, benar-benar menzalimi ide Alkitab tentang keragaman seperti yang terungkap dalam seruan “pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa” (Mzm. 117:1) dan terawang mengenai “kumpulan besar orang banyak … dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (artinya, bahasa-bahasa Indian termasuk) yang memuliakan Kristus (Why. 7:9).

Puji Tuhan, program macam itu tak pernah digelar di Indonesia! Bangsa Indonesia, lewat Sumpah Pemuda 1928 dan Undang-Undang Dasar 1945, memastikan keindonesiaan tidak dipaksakan tapi disepakati bersama. Berkenaan dengan bahasa, butir “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dalam Sumpah Pemuda memastikan bahasa-bahasa di Indonesia tetap ada tapi dengan satu bahasa, yakni bahasa Indonesia, dipilih sebagai alat perhubungan antarsuku. Hadirnya pemuda-pemuda Kristen dalam pengikraran Sumpah Pemuda boleh dipandang sebagai pengejawantahan pesan Alkitab tentang keragaman budaya dan bahasa.

Gereja Indonesia masa kini, di satu pihak, masih ingat pesan itu. Bukti terkuatnya mungkin berupa liturgi bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah (di gereja-gereja suku), upaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa Nusantara, dan pemutakhiran Alkitab bahasa Indonesia. Namun, di sisi lain, Gereja Indonesia juga melalaikan pesan itu. Bukti terkuatnya mungkin berupa ketergila-gilaan terhadap bahasa Inggris yang mudah disimak dalam judul-judul acara/ibadah dan khotbah-khotbah kristiani. Bahasa Inggris dianggap lebih “tinggi” daripada bahasa Indonesia.

Jadi, di Amerika Utara abad ke-19 orang Indian Kristen diinggriskan secara paksa, tapi di Indonesia abad ke-21 orang Indonesia Kristen menginggriskan diri secara sukarela. Anak-anak Indian Kristen dicekoki bahasa Inggris oleh guru dan rohaniwan keturunan Eropa, tapi anak-anak Indonesia Kristen dicekoki bahasa Inggris oleh guru, rohaniwan, dan orang tua Indonesia sendiri!

Gereja Indonesia tentu harus berpaling dari kelalaiannya. Para rohaniwan harus memasyarakatkan pesan Alkitab tentang keragaman budaya dan bahasa—dengan khotbah yang tak usah dicampur-campur bahasa asing. Gereja-gereja harus mencerahi dan menyemangati umat untuk bangga berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang diikrarkan bersama dan yang dikaruniakan Allah—dengan acara yang tak usah bertajuk bahasa asing. Ya, yang harus digosok tandas dengan cairan alkali atau larutan klorin adalah mental keasing-asingan yang memandang rendah budaya dan bahasa sendiri.

Di abad ke-20, pemerintah Kanada secara resmi meminta maaf kepada orang Indian atas penzaliman terhadap budaya dan bahasa mereka.5 Gereja Kanada pun berbuat serupa. Pada tahun 1993, Stephen Peers, uskup agung Anglikan Kanada, berkata kepada para penyintas sekolah asrama Indian, “Saya minta maaf, lebih dari yang dapat saya katakan, bahwa kami mencoba membentuk ulang Anda menurut citra kami, mengambil dari Anda bahasa Anda dan tanda-tanda budaya Anda.”6 Itu kesadaran dan penyesalan yang baik.

Mudah-mudahan Gereja Indonesia tak perlu sampai sadar, menyesal, dan minta maaf di masa mendatang karena melalaikan pesan Alkitab tentang keragaman budaya dan bahasa.

. 

S.P. Tumanggor adalah seorang pengalih bahasa dan penulis yang bermukim di Bandung, Jawa Barat.

.

Catatan

1 Andrea Smith. “Soul Wound: The Legacy of Native American Schools” dalam situs Amnesty International USA. <http://www.amnestyusa.org/node/87342>.

2 Andrea Smith, “Soul Wound.”

3 “Boarding School” dalam situs The National Museum of the American Indian. <http://www.nmai.si.edu/education/codetalkers/html/chapter3.html>.

4 Andrea Smith, “Soul Wound.”

5 Lihat “Truth and Reconciliation (2): First Apologize, Then Act” dalam situs The Globe and Mail. <http://www.theglobeandmail.com/opinion/editorials/truth-and-reconciliation-2-first-apologize-then-act/article24827422/>.

6 Dikutip dari Fred Hiltz. “A Step Along the Path” dalam situs Anglican Church of Canada. <http://www.anglican.ca/news/a-step-along-the-path/300174/>.

One thought on “Bahasa dan Gereja

  1. Prawira

    Saya menghargai dan kurang lebih setuju dengan pendapat bapak bahwa bahasa Indonesia tidak boleh dianggap lebih rendah daripada bahasa Inggris. Namun, menurut hemat saya bahasa Inggris di khotbah atau acara ibadah tidaklah menggambarkan bahwa gereja tergila gila dengan bahasa Inggris dan mengesampingkan bahasa nasional kita. Bahasa Inggris adalah bahasa universal yang digunakan di seluruh dunia, dan gereja tentunya bukan hanya milik WNI saja. Gereja dalam panggilannya menjadi utusan Allah di tengah dunia menunjukkan sifat universal yg tercermin dalam bahasanya yang universal. Terlebih saat ini banyak acara yg dipublikasikan di medsos sehingga perlu bahasa Inggris dalam rangka publikasi agar dapat dimengerti oleh org yg tdk bisa berbahasa Indonesia. Tentunya ini tdk perlu jika gereja itu hanya publikasi acara di lingkungan sekitarnya. Selain itu penggunaan bahasa Inggris juga dapat meningkatkan kompetensi dari jemaat dalam bahasa Inggris karena tugas gereja bukan hanya membangun kerohanian tapi juga memberdayakan jemaat. Pada akhirnya penggunaan bahasa Inggris tidaklah menjadi masalah selama bahasa Indonesia tetap dijadikan bahasa utama dan jemaat menyadari kedudukan, peranan, dan batasan dalam penggunaan setiap bahasa.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *