Fondasi Cakar Ayam dan Berpikir Gesit

Oleh Helminton Sitanggang

Tak banyak dari kita yang tahu bahwa Asian Games IV tahun 1962, yang dinilai sebagai tonggak bersejarah olahraga Indonesia,1 merupakan awal dikenalnya fondasi cakar ayam oleh dunia. Itulah kali pertama fondasi tersebut digunakan, yakni pada lima dari tujuh menara listrik tegangan tinggi yang menyalurkan daya dari PLTU Tanjung Priok ke GOR Senayan. Berkat fondasi cakar ayam persoalan pasokan listrik terpecahkan dan Asian Games IV terselenggara dengan sukses.2

Konstruksi hebat itu digagas oleh Sedyatmo, insinyur Indonesia asal Karanganyar, Jawa Tengah, kelahiran tahun 1909. Waktu itu dua menara pemasok listrik sudah didirikan secara susah payah—lantaran kondisi tanah lembek—dengan fondasi tiang pancang. Lima menara lagi tersisa, padahal waktu penyelenggaraan Asian Games semakin dekat. Dalam keadaan yang mendesak, Sedyatmo berpikir gesit dan menemukan jenis fondasi yang cocok untuk tanah lembek.3

Insinyur lulusan Technische Hogescholl (sekarang ITB) itu memang dikenal banyak akal dan juga beretos kerja tinggi. Tak heran ia mendapat julukan “Si Kancil”. Dalam karirnya sebagai insinyur, Sedyatmo kerap menghasilkan karya-karya inovatif hasil berpikir konstruktif segesit kancil, misalnya jembatan penyalur air di Wonogiri, bendungan yang serba lengkung di Ngebel, dan tentu saja fondasi cakar ayam.4

Ilham Sedyatmo untuk fondasi cakar ayam sebetulnya didapat dari akar serabut yang mampu menunjang pohon kelapa di tanah lunak di pinggir pantai. Tapi ia kemudian menamainya “fondasi cakar ayam” karena terdengar lebih enak dan karena ia menyadari bahwa fondasi ciptaannya memang mirip cakar ayam.5 Pipa-pipa beton vertikal yang satu sama lain dihubungkan oleh plat beton memang menyerupai cakar ayam yang menghunjam ke tanah.6

Fondasi cakar ayam menunjukkan bahwa berpikir gesit berarti berpikir analitis secara cepat dan akurat terhadap persoalan. Setelah bersusah payah membangun dua menara pemasok listrik yang pertama, Sedyatmo cepat mengenali ketidakmampuan tanah lembek menopang tiang pancang yang panjang. Lalu ia cepat pula menggagas dan menerapkan ide fondasi cakar ayam secara akurat.

Analisis cepat dan akurat adalah senjata kaum cendekia dalam memecahkan berbagai persoalan yang menghambat pembangunan negara. Persoalan seperti ruwetnya birokrasi atau keterbatasan modalbisa dan telah dianalisis secara cepat dan akurat lalu dipecahkan dengan penerapan sistem daring atau peminjaman modal yang diperhitungkan baik-baik. Penting pula bahwa pemecahan persoalan harus dijalankan secara cepat—tidak berlambat-lambat—dan akurat.

Berpikir gesit juga berarti berpikir praktis. Fondasi cakar ayam mudah dibuat tanpa memerlukan peralatan canggih dan tenaga ahli. Selain itu, fondasi cakar ayam dapat cepat dibuat karena pipa-pipa betonnya dicetak secara bersamaan.7 Kedua kelebihan itulah yang memungkinkan Sedyatmo mendirikan kelima menara pasokan listrik sebelum Asian Games IV dimulai.

Dengan berpikir praktis kaum cendekia menemukan hal baru yang mudah dan cepat diterapkan, misalnya penggunaan beton pracetak untuk percepatan pembangunan rumah dan saluran irigasi atau penerapan jembatan apung untuk penyeberangan sungai di desa-desa terpencil. Kemudahan dan kecepatan menjadikan pembangunan berbiaya lebih murah dan manfaatnya lebih segera dirasakan. Kepraktisan membawa kemajuan.

Pasca Asian Games IV, fondasi cakar ayam semakin luas digunakan, antara lain pada gedung bertingkat, jembatan, bandara, dan jalan tol. Fondasi ini pun semakin dikenal di banyak negara dan mendapat pengakuan paten baik dari dalam negeri maupun luar negeri (misalnya dari Inggris, Perancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, dan Belanda)8—pengakuan yang layak untuk hasil berpikir konstruktif yang begitu gemilang.

Atas jasa-jasanya kepada negara dan pengembangan ilmu teknik, “Si Kancil” meraih gelar doktor honoris causa dari ITB pada tahun 1974 dan dianugerahi Bintang Mahaputra Kelas I dari pemerintah RI. Ia tutup usia pada tahun 1984 dan namanya diabadikan sebagai nama jalan tol “Sedyatmo” yang merentang dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta.9

Seperti Sedyatmo, kita sebagai kaum terpelajar pun tak boleh lamban dalam membangun negara. Kita harus berkarya di bidang gelutan masing-masing dengan berpikir gesit—segesit kancil dan segesit para atlet yang menjadikan Indonesia juara dua dalam Asian Games IV.10

Helminton Sitanggang adalah seorang pegawai BUMN di bidang metalurgi yang bermukim di DKI Jakarta.

Catatan

1 Fahmiranti Widazulfia. “Mengenang Asian Games 1962” dalam situs Good News from Indonesia. <https://www.goodnewsfromindonesia.id/2015/09/12/mengenang-asian-games-1962>. Asian Games IV adalah pesta olahraga berskala internasional yang pertama diselenggarakan Indonesia setelah merdeka.

2 “Prof. Dr. Ir. Sedijatmo dan Pondasi Cakar Ayam yang Mendunia” dalam situs Harian Sejarah. <http://www.hariansejarah.id/2017/01/prof-dr-ir-sedijatmo-dan-pondasi-cakar-ayam-yang-mendunia.html?m=1>.

3 “Mengenal Pondasi Cakar Ayam Karya Prof. Sedijatmo” dalam situs Kita Sipil. <http://www.kitasipil.com/2016/09/mengenal-pondasi-cakar-ayam-karya-prof.html?m=1>.

 “Prof. Dr. Ir. Sedijatmo dan Pondasi Cakar Ayam yang Mendunia”, Harian Sejarah.

4 “Prof. Dr. Ir Sedyatmo: Insinyur Cerdik yang Inovatif” dalam situs ALSI. <http://alsi-itb.org/prof-dr-ir-sedyatmo/>.

5Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan. Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta. Bandung: Teraju, Cetakan I: 2009, hal. 150.

6 Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan, hal. 145.

7“Mengenal Pondasi Cakar Ayam Karya Prof. Sedijatmo”, Kita Sipil.

8 “Prof. Dr. Ir Sedyatmo: Insinyur Cerdik yang Inovatif”, ALSI.

9 “Prof. Dr. Ir Sedyatmo: Insinyur Cerdik yang Inovatif”, ALSI.

10 Fahmiranti Widazulfia, “Mengenang Asian Games 1962”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *