Author Archives: Victor Samuel

Tubuh: Kurban Hidup

Oleh Victor Samuel Banyak bangsa di masa lampau—sebutlah bangsa-bangsa Aztek, Kelt, Mesir, Hawaii, Tiongkok—dikenal memiliki ritual kurban manusia. Dalam ritual mengerikan ini tubuh manusia dibunuh sebagai kurban bagi ilah-ilah. Setelah muncul agama-agama besar yang kita kenal sekarang (Kristen termasuk di antaranya), ritual kurban manusia mulai ditinggalkan bahkan dikutuk oleh bangsa-bangsa…. Read more »

Booker T. Washington: Pengusaha Kesejahteraan

Oleh Victor Samuel Lahir dari seorang wanita budak berkulit hitam di AS tahun 1856, Booker Taliaferro Washington tampaknya bermasa depan suram. Ketika itu anak budak biasanya bernasib menjadi budak pula.1 Namun, ia memutarbalikkan nasibnya dan nasib kaumnya. Sebagai pendiri dan pemimpin Tuskegee Normal and Industrial Institute, universitas kejuruan bagi kaum… Read more »

Pelita Bacaan Ilmiah

Banyak tokoh hebat AS (Amerika Serikat) adalah pembaca bacaan serius—ilmiah khususnya—yang “rakus”. Bill Gates, pencetus Microsoft, melahap satu buku per minggu; Mark Zuckerberg, pembuat Facebook, menghabiskan dua buku per minggu; Warren Buffet, pendiri Berkshire Hathaway, menyantap 600-1.000 halaman per hari di awal karirnya.1 Tak heran, mereka turut membawa bangsa AS… Read more »

Imam-imam Meksiko: Baiknya Menderita karena Berbuat Baik

Oleh Victor Samuel Enam bulan setelah diculik, John Ssenyondo, imam berdarah Uganda yang melayani di Meksiko, ditemukan tewas di sebuah kuburan massal.1 Dua tahun kemudian, yakni tahun 2016, Jose Alfredo Lopez Guillen, imam lainnya, ditemukan tewas dengan lima tembakan di perut. Mereka menambah deretan kasus pembunuhan imam Katolik Meksiko yang… Read more »

Menggarami dan Menerangi Budaya

Oleh Victor Samuel “Kamu adalah garam dunia. … Kamu adalah terang dunia,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya (Mat. 5:13-14). Maka Gereja, selaku umat pengikut Yesus, seharusnya menggarami dan menerangi dunia—termasuk budaya bangsa-bangsa di dalamnya. Ini dapat diwujudkan dengan membangun keselarasan antara budaya dan kekristenan. Untuk itu Gereja harus, kalau mengutip perkataan… Read more »

Bahasa Persatuan: Lukisan atau Cat Tembok?

Oleh Victor Samuel Negara-negara di dunia memiliki bahasa persatuan. Tetapi cara bahasa persatuan itu diterapkan dalam kehidupan berbangsa bisa seperti lukisan atau seperti cat tembok. Kita bisa melihat contohnya dalam kasus Negara Indonesia—negara kita—dan Negara Libya. Pada tahun 1969, Muammar Gaddafi menumbangkan monarki Libya dan menetapkan dalam konstitusi negara: “Bahasa… Read more »

Sastra Penyuara Kebenaran

Oleh Victor Samuel dan Hotgantina Sinaga Bangsa Rusia telah melahirkan beberapa sastrawan besar dan kristiani. Dua di antaranya adalah Leo Tolstoy (1828-1910) dan Aleksandr Solzhenitysn (1918-2008) yang suka menyuarakan kebenaran lewat karya-karya mereka. Meski mendapat tentangan keras, keduanya pantang mundur dalam membaktikan pena bagi kebenaran. Tolstoy muda, setelah ikut berperang… Read more »

Melayu Cape dan Tiga Nilai Luhur Nusantara

Oleh Victor Samuel Benua Afrika rasanya jauh sekali dari tanah air kita. Dari Indonesia, butuh waktu sehari lebih untuk mencapainya dengan pesawat terbang. Budaya dan bahasa penduduknya pun berbeda sekali dengan budaya dan bahasa kita. Namun, di negara Afrika Selatan ternyata hidup komunitas orang keturunan Nusantara, saudara-saudara seleluhur kita. Di… Read more »

Belanja Ide Inovasi di Pasar Swalayan

Oleh Victor Samuel Manusia berbeda dengan binatang dalam banyak hal. Salah satunya adalah dalam cara mendapatkan makanan. Binatang harus mencari tumbuhan atau memburu binatang lain. Kita, manusia, dapat menemukan makanan—dan berbagai kebutuhan hidup lainnya—dengan berbelanja di pasar. Pasar mempertemukan penjual dan pembeli barang agar masing-masing memperoleh kebutuhannya. Semua bangsa mengenal… Read more »

Kekristenan Jinak

Oleh Victor Samuel Di seluruh dunia, agaknya tidak ada hari besar agama semeriah Natal. Orang non-Kristen pun tak jarang turut merayakan semaraknya. Di Indonesia, mal-mal sering memasang pohon Natal besar-besar dan dekorasi Natal lainnya pada bulan Desember, padahal pengunjungnya mayoritas non-Kristen. Kasir dan pramusaji non-Kristen pun memakai topi Sinterklas. Itu… Read more »