Dialog Atasan-Bawahan: Budaya Menyelesaikan dan Mencegah Masalah

Oleh Samsu Sempena

“Hati-hati bertransaksi di situs internet LakuKeras. Bulan lalu saya bertransaksi dengan kartu kredit dan mendapati beberapa transaksi tak dikenal dalam tagihan bulan ini. Saya sudah menghubungi layanan pelanggan LakuKeras namun hanya dipingpong ke sana kemari. Saya minta manajemen LakuKeras untuk bertanggungjawab penuh atas pencurian dana saya.”

Kalimat-kalimat surat pembaca itu membuat hati Bendi gusar sekali. Selaku manajer publikasi dan relasi eksternal LakuKeras, pantaslah ia gusar. Isu tak sedap tentang LakuKeras yang dimuat di surat kabar nasional pastilah akan berdampak terhadap penilaian kinerjanya.

Kegusarannya diperparah oleh Cikal, bawahannya yang baru bergabung dua bulan lalu sebagai analis isu-isu peka. Cikal sudah mengetahui kasus tersebut, namun karena masih baru, ia belum mengetahui bagaimana seharusnya menindaklanjutinya. Bendi memarahinya dengan keras karena merasa bahwa Cikal tidak melakukan tugasnya. Upaya Cikal untuk berdialog pun ditepisnya mentah-mentah.

Tiba-tiba telepon di meja Bendi berdering. Rupanya Andal, direktur perusahaan LakuKeras, memanggil dia ke ruangannya. Ketika Bendi sudah duduk di hadapan atasannya itu, Andal membuka dialog, “Ben, waktu saya lewat di depan ruangan Anda tadi, saya mendengar Anda memarahi Cikal, pegawai baru itu. Bisa ceritakan kepada saya apa masalahnya?”

“Mungkin Bapak sudah tahu bahwa di surat kabar hari ini ada surat pembaca yang mengeluhkan pencurian data kartu kredit di situs kita. Saya menegur Cikal karena dia telah mengetahui isu tersebut, namun gagal menanganinya untuk mencegah surat pembaca itu muncul.”

“Begitu rupanya. Apakah Anda sudah pernah menjelaskan kepada Cikal bagaimana seharusnya menangani masalah seperti pencurian data kartu kredit?” Andal bertanya dengan raut wajah yang tetap tenang.

Bendi tertegun sejenak, menyadari kelalaiannya. “Belum, Pak.”

“Saya senang Anda jujur, Ben. Tadi saya sempat menemui Cikal dan menanyakan duduk perkaranya. Ia kaget dimarahi seperti itu. Ia merasa sudah berusaha semaksimal mungkin namun gagal karena tak punya cukup pengetahuan untuk bertindak. Sebenarnya ia sangat berharap dapat berdialog dengan Anda mengenai urusan ini.”

“Tadi saya mengira bahwa Cikal mau berdialog untuk sekadar mencari-cari alasan.” Wajah Bendi menyiratkan penyesalan.

“Anda masih ingat apa yang saya ajarkan ketika Anda baru bergabung dengan perusahaan ini? Kita harus membudayakan dialog untuk menangani masalah, khususnya masalah atasan-bawahan. Dengan berdialog, tak ada masalah besar yang tak dapat diselesaikan atau dicegah. Sebaliknya, tanpa berdialog, masalah kecil bisa tak terselesaikan atau tak tercegah menjadi masalah besar. Dialog itu komunikasi untuk menyelesaikan dan mencegah masalah.”

“Saya masih ingat, Pak. Saya juga ingat bahwa Bapak sering berdialog dengan saya tentang masalah-masalah pekerjaan, cara-cara meningkatkan kinerja, bahkan prinsip-prinsip hidup.”

Andal tersenyum, senang karena bawahannya masih mengingat dialog-dialog mereka.

“Saya jadi sadar,” lanjut Bendi, “bahwa sebagai atasan saya lalai menerapkan hal serupa. Dalam dua bulan ini saya belum cukup menjelaskan tanggung jawab Cikal dalam perusahaan dan menolong dia menguasai bidang pekerjaannya. Saya minta maaf, Pak.”

“Saya dapat memakluminya. Masalah tadi memang sangat kita sayangkan. Namun, perusahaan yang tidak membudayakan dialog atasan-bawahan tidak akan berjalan lancar. Hal ini akan berdampak buruk kepada layanan masyarakat dan, karenanya, kesejahteraan orang banyak.”

“Saya belum memikirkan sejauh itu, Pak.” Bendi tampak terkesima. “Tapi apakah semua masalah dapat selesai lewat dialog? Bukankah ada hal-hal yang perlu diselesaikan oleh sistem?”

Andal tertawa. “Benar, Ben! Namun tanpa dialog, sistem pun tidak dapat diwujudkan atau dijalankan.”

Bendi mengangguk-angguk. “Sekarang saya makin mengerti mengapa Bapak berpesan untuk membudayakan dialog saat Bapak mempromosikan saya dulu.”

“Dari dulu saya selalu yakin, Ben, bahwa Anda dapat menjadi atasan yang baik—asalkan Anda terbiasa berdialog dengan bawahan.”

Bendi menarik napas lega, memundurkan kursinya lalu bangkit sambil menyalami Andal.

“Terima kasih, Pak. Sekarang saya permisi dulu. Saya mau menemui Cikal untuk minta maaf sekaligus berdialog.”

.

Samsu Sempena adalah seorang praktisi teknologi di bidang perjalanan yang bermukim di DKI Jakarta.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *