TKI Membanggakan Indonesia di Dunia

Oleh Samsu Sempena dan Daniel Siahaan

Per Desember 2015 tercatat ada lebih dari tiga juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.1 Jumlah fantastis itu menjadikan Indonesia salah satu negara penyumbang tenaga kerja terbesar di dunia. Tersebar di lebih dari 25 negara di benua-benua Asia, Afrika, Amerika, dan Australia,2 TKI secara kolektif menonjol sebagai diaspora orang Indonesia yang terbesar di dunia.

Diaspora adalah penyebaran sekelompok orang dari satu daerah/negeri ke daerah/negeri lain. Pada umumnya orang berdiaspora untuk mengungsi, belajar, atau bekerja—seperti dalam kasus TKI. Diaspora TKI menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, orang Indonesia, setidaknya karena dua hal. Pertama, banyak negara di dunia telah mengecap hal-hal baik lewat jerih payah TKI. Kedua, kita jadi punya banyak saudara sebangsa di berbagai belahan dunia.

Sejarah diaspora pekerja Nusantara boleh dipandang berawal pada tahun 1890, ketika 94 orang Jawa diberangkatkan ke Suriname, Amerika Selatan, untuk bekerja sebagai buruh kontrak.3 Kegiatan tersebut dimotori oleh pemerintah Belanda, yang pada saat itu berkuasa di Nusantara. Hari ini, lama setelah Belanda hengkang dari Nusantara, penyaluran TKI ke mancanegara diatur oleh bangsa Indonesia sendiri, yakni oleh pemerintah dan pihak swasta.4

Berkembangnya TKI dari 94 orang di satu negara menjadi jutaan orang di puluhan negara membuktikan bahwa dunia punya “rasa cocok” dengan kinerja orang Nusantara. Bukan hanya sebagai pekerja kasar, TKI berketerampilan tinggi pun telah mendapat tempat di dunia. Perawat Indonesia, misalnya, sangat diminati di Jepang dibandingkan perawat dari negara-negara lain. TKI pun dipercaya menjadi koki, pekerja galangan kapal, dan pekerja industri otomotif di Amerika Serikat.5

Diaspora TKI jelas memberi dampak positif bagi negara-negara yang menampung mereka. Belum lama ini enam TKI menggondol enam dari 12 penghargaan untuk tenaga kerja asing terbaik tahun 2015 di Taiwan. Mereka dinilai berjasa besar terhadap pembangunan dan perkembangan ekonomi Taiwan.6 Kita pun ingat TKI Erwiana Sulistyaningsih. Keberaniannya mengungkap kekerasan majikan mendorong munculnya undang-undang baru tentang perlindungan tenaga kerja asing di Hong Kong dan membuatnya masuk “Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” versi majalah TIME tahun 2014.7

Mereka membuat kita sangat bangga.

Dan kita belum lagi bicara tentang dampak positif TKI bagi tanah air. Mereka mengirimkan mata uang asing hasil kerja keras mereka di luar negeri untuk keluarga di Indonesia. Kiriman ini menambah cadangan devisa dalam negeri, meningkatkan nilai tukar rupiah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2014 saja devisa dari TKI mencapai 100 triliun rupiah!8 Tak heran mereka kita banggakan sebagai “pahlawan devisa.”

Sepak terjang mereka dapat menjadi ilham berharga bagi kita. Diaspora TKI di dunia bukan bicara tentang kesusahan orang Indonesia di negeri lain semata—seperti yang banyak diberitakan media massa—tetapi juga tentang keberanian orang Indonesia mencari penghidupan di tempat-tempat jauh dan asing. Mereka berkarya dengan bermodalkan hal-hal baik ala Nusantara: mampu menyesuaikan diri, berdaya tahan tinggi, dan berpengharapan besar.

Maka kita yang tinggal dan bekerja di tanah air pun harus berani merambah/ditempatkan di berbagai pelosok negeri, khususnya yang butuh banyak sentuhan pembangunan. Kita harus mampu menyesuaikan diri dengan tempat kerja dan berdaya tahan tinggi, sambil berkinerja terbaik, di hadapan tantangan-tantangan pekerjaan. Kita harus berpengharapan besar bahwa kerja keras kita akan berdampak positif bagi bangsa kita, bahkan bagi dunia.

Tersebar di berbagai belahan dunia, diaspora TKI telah memberi kebanggaan bagi kita, bangsa Indonesia. Di tengah rupa-rupa tantangan hidup di negeri asing, mereka bekerja keras dan memberi sumbangan besar bagi bangsa lain dan bangsa sendiri. Jadi, sudah sepatutnyalah kita dan pemerintah kita mendukung dan melindungi saudara-saudara sebangsa yang membanggakan Indonesia di dunia itu.

.

Samsu Sempena adalah seorang praktisi teknologi di bidang perjalanan yang bermukim di DKI Jakarta.

.

Catatan

1 “Ke Negara Mana Saja TKI Diberangkatkan?” dalam situs Kompas. <http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/12/24/094812026/Ke.Negara.Mana.Saja.TKI.Diberangkatkan>.

2 “Sepanjang 2014 BNP2TKI Mencatat Penempatan TKI 429.872 Orang” dalam situs BNP2TKI <http://www.bnp2tki.go.id/readfull/9801/Sepanjang-2014-BNP2TKI-Mencatat-Penempatan-TKI-429.872-Orang>.

3 “Sejarah Penempatan TKI Hingga BNP2TKI” dalam situs BNP2TKI  <http://www.bnp2tki.go.id/frame/9003/Sejarah-Penempatan-TKI-Hingga-BNP2TKI>.

4  Pemerintah membentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Pihak swasta, melalui PPTKIS (Pelaksana Penempatan TKI Swasta), turut ambil bagian dalam merekrut dan menempatkan TKI.

5 “Perawat RI Diminati di Bursa Tenaga Kerja Luar Negeri” dalam situs Detik. <http://finance.detik.com/read/2016/01/12/141900/3116507/4/perawat-ri-diminati-di-bursa-tenaga-kerja-luar-negeri>.

6 “6 TKI Jadi Tenaga Kerja Asing Terbaik di Taiwan” dalam situs Dream. <http://www.dream.co.id/dinar/6-ekspatriat-terbaik-taiwan-berasal-dari-indonesia-150504t.html>.

7 “TKI Erwiana Masuk Daftar 100 Tokoh Berpengaruh Majalah ‘Time’” dalam situs Kompas. <http://internasional.kompas.com/read/2014/04/25/1316146/TKI.Erwiana.Masuk.Daftar.100.Tokoh.Berpengaruh.Majalah.Time.>. Lihat juga Somaly Mam. “Erwiana Sulistyaningsih” dalam situs TIME. <http://time.com/70820/erwiana-sulistyaningsih-2014-time-100/>.

8 “Devisa TKI sebesar Rp 100 Triliun” dalam situs Pikiran Rakyat  <http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2015/05/07/326426/devisa-tki-sebesar-rp-100-triliun>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *