Budaya dan Pemaknaan Iman

Oleh Viona Wijaya

Bayangkan Anda adalah seorang Jawa yang masuk ke dalam sebuah gereja berasitektur rumah joglo. Sementara kaki Anda melangkah, Anda mendengar lantunan musik gamelan, yang sudah tak asing di telinga, mengiringi kidung indah tentang Yesus Kristus dalam bahasa Jawa. Di bangunan tempat berdoa yang bergaya candi, Anda dapat melihat relief yang menggambarkan Yesus dalam pose raja Jawa di atas singgasana. Gelar-Nya pun tertera di situ dalam aksara Jawa.1

Itu gambaran nyata tentang Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran. Gereja Katolik ini terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan dibangun oleh keluarga Schmutzer (asal Belanda) pada tahun 1924.2 Jika saya seorang Jawa, tentunya saya merasa “betah” dengan ekspresi budaya di dalamnya. Segala simbol dan ritual Kristen diungkapkan dalam bentuk-bentuk yang selaras dengan budaya saya sehingga memudahkan saya memaknai nilai-nilai yang dikandungnya. Dengan begitu, penggunaan budaya membantu pemaknaan iman.

Seperti suku Jawa, semua suku atau bangsa lain juga memiliki budaya khas, yang bisa jadi lebih tua dari agama Kristen. Ketika budaya ini berjumpa dengan kekristenan, dua kemungkinan dapat terjadi. Budaya dapat menghambat atau dapat membantu pemaknaan iman Kristen. Yang belakangan ini tentulah yang terbaik. Itulah sebabnya keselarasan antara iman dan budaya menjadi penting.

Gereja HKTY secara elegan menampilkan upaya menyelaraskan iman dan budaya. Alih-alih menggunakan budaya Belanda atau Eropa di Tanah Jawa, keluarga Schmutzer meniatkan berdirinya gereja yang bercorak Jawa. Mereka memilah unsur budaya Jawa mana yang dapat digunakan untuk membantu pemaknaan iman Kristen. Tindakan mereka dapat dilihat sebagai suatu terobosan hebat pada masa ketika bangunan gereja yang selaras dengan budaya setempat belumlah lumrah.3

Praktik penggunaan budaya untuk membantu pemaknaan iman sebetulnya bukan hal asing dalam Alkitab. Sebagai contoh, sistem kurban dan sistem imam bani Israel dipungut dari praktik purba yang sudah dikenal bangsa-bangsa lain di sekitarnya.4 Allah menyuruh bani Israel menggunakannya—pastinya dengan modifikasi khusus—untuk membantu mereka menghayati makna iman.

Demikianlah sistem kurban membantu mereka memaknai bahwa setiap manusia itu berdosa dan membutuhkan suatu penebusan/penghapusan dosa.5 Sistem imam membantu mereka memaknai bahwa setiap manusia butuh perantara untuk bertemu dengan Yang Mahakudus.6 Bani Israel lalu mempraktikkan keduanya sebagai ungkapan iman sekaligus budaya.

Jika bani Israel di masa lalu dibantu memaknai iman oleh budaya setempat, tentulah orang Jawa Kristen di masa kini pun dapat dibantu memaknai iman oleh budayanya.

Saya rasa ketika seorang Jawa berada di Gereja HKTY Ganjuran dan melihat kerubim dalam pose menyembah ala abdi dalem, ia dapat dengan mudah memaknai bagaimana kita sekalian mesti menyembah Sang Raja. Gelar Yesus sebagai raja dalam bahasa Jawa memudahkannya memaknai Yesus sebagai penguasa hidupnya dan segala-galanya. Bisa kita bayangkan bahwa ketika Injil disebarkan di Tanah Jawa dahulu, orang Jawa lebih mudah memaknai kidung dan ibadah dalam bahasa Jawa daripada bahasa Belanda.

Gereja HKTY Ganjuran menunjukkan usaha baik demi keselarasan budaya dan iman. Gereja-gereja di Indonesia patut mengikuti teladan baik itu, mengingat banyak sekali yang masih “alergi” terhadap budaya setempat dan cenderung kebarat-baratan. Tepat sudah apa yang diingatkan Sam Tumanggor kepada kita bahwa dalam banyak kesempatan, Allah mengharapkan kita memanfaatkan budaya latar (masyarakat, bangsa, dunia) kita, bukan memusuhi atau menjauhinya.7

Schmutzer dan keluarganya, yang bukan misionaris melainkan pemilik pabrik gula, menangkap ide luhur itu. Mereka merangkul dan memanfaatkan budaya latar masyarakat Jawa dengan sangat kreatif sehingga kekristenan jadi “mendarat” bagi masyarakat Jawa. Ini menunjukkan bahwa siapa pun dapat dipakai Allah untuk membangun keselarasan apik antara iman dan budaya di tengah segala suku bangsa di bumi untuk memuliakan-Nya.

Ah, saya berdoa semoga hikmat untuk membangun keselarasan iman dan budaya juga dimiliki umat Kristen generasi terkini, khususnya di Indonesia. Dengan demikian, warta baik yang dimaklumkan kekristenan dapat dimaknai sebaik-baiknya dalam setiap budaya.

.

Viona Wijaya adalah seorang calon pegawai negeri sipil yang bermukim di DKI Jakarta.

.

Catatan

1 Gelar tersebut ditulis dengan aksara Kaganga (lebih kuno dari aksara Jawa moderen) dan dapat diartikan sebagai “Sampeyan Dalem Maha Prabu [gelar Raja Jawa zaman Mataram] Yesus Kristus, Tuhan Para Bangsa”. Lihat “Tuhan Para Bangsa” dalam blog Vinceney. <https://vinceney.wordpress.com/2015/06/02/tuhan-para-bangsa/>.

2 “Gereja Ganjuran” dalam situs Gereja HKTY Ganjuran. <http://www.gerejaganjuran.org/profile/ganjuran>.

3 “Gereja Ganjuran,” Gereja HKTY Ganjuran.

4 Samuel Tumanggor. Tuhan Gunung atau Tuhan Alam Semesta?: Wawasan Nasrani tentang Daulat Allah atas Semesta. Jakarta: Literatur Perkantas, 2011, hal. 123-125.

5 Samuel Tumanggor, hal. 125.

6 Samuel Tumanggor, hal. 125.

7 Samuel Tumanggor, hal.114.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *