Tubuh dan Tuhan

Oleh Helminton Sitanggang

Tubuh dan Tuhan. Pernahkah kita, orang Kristen, memikirkan baik-baik hubungan antara kedua entitas itu? Yang satu ciptaan, fana, dan rapuh; yang satu lagi Pencipta, kekal, dan mahadaya. Tampak sangat kontras! Namun, Alkitab, pustaka pedoman kita, merumuskan suatu hubungan yang indah tentang keduanya: “[T]ubuh … untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh” (1 Kor. 6:13).

Alkitab mencatat bahwa manusia diciptakan menurut citra Tuhan (Kej. 1:26). Kenyataan itu menyiratkan bahwa tubuh (sebagai bagian dari manusia seutuhnya) adalah sesuatu yang baik. Sejak awal Tuhan telah menetapkan agar tubuh digunakan manusia untuk mengerjakan maksud-maksud-Nya, yakni hal-hal yang baik dan bermanfaat di bumi (Kej. 2:15). Inilah yang dimaksud dengan “tubuh untuk Tuhan”.

Tubuh kita, bersama ciptaan Tuhan yang lain, dinyatakan Alkitab “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Paling tidak ini terlihat dari keajaiban organ-organnya. Otak yang beratnya hanya 2% dari total berat tubuh mampu mengatur seluruh fungsi tubuh.1 Jantung berdenyut 100 ribu kali sehari untuk memompa darah melewati 97 ribu km jalur pembuluh darah.2 Paru-paru memiliki 600 juta alveolus berukuran dua kali luas lapangan tenis.3 Usus halus sepanjang enam meter mampu menyerap gizi dari makanan.4

 Tubuh sungguh baik dan ajaib! Karena itulah Alkitab bersaksi bahwa Firman Allah pun sudi mengenakan tubuh—dalam peristiwa Natal. Lewat penjelmaan, Sang Firman yang adalah Yesus Kristus mengalahkan kuasa dosa yang membuat tubuh dan anggota-anggotanya cenderung melakukan hal-hal jahat. Selanjutnya, kebangkitan tubuh Kristus dari kematian merintis jalan bagi kebangkitan tubuh kita kelak setelah mati.

Kini, setelah beriman kepada Kristus dan sebelum tutup usia, kita diberdayakan Roh Tuhan untuk menaklukkan nafsu tubuh, berbuat baik dengan tubuh, serta melayani Tuhan dan sesama dengan tubuh. Tubuh yang sejak semula baik, tetapi cenderung berbuat dosa setelah pelanggaran pasangan manusia pertama (Adam dan Hawa), sekarang—pasca penebusan Kristus—diarahkan ulang kepada hal-hal baik. Tuhanlah yang mengerjakan semua itu, dan inilah yang dimaksud dengan “Tuhan untuk tubuh”.

Jika Alkitab memandang tubuh kita sebagai hal yang baik, maka sepatutnya kita pun berpandangan demikian. Kita tidak bisa ikut-ikutan dengan paham Gnostik yang memandang tubuh sebagai sesuatu yang jahat secara bawaan. Sebaliknya, kita juga tidak bisa meninggikan tubuh sehingga menyombongkannya atau mengejar kepuasan-kepuasannya belaka.5 Tubuh kita adalah untuk kemuliaan Tuhan karena Tuhan adalah untuk kebaikan tubuh kita.

Kita bisa menghormati Tuhan dengan cara menghormati dan memelihara tubuh. Kita bisa, misalnya, menggunakan helem saat bersepeda motor untuk melindungi kepala (dan otak di dalamnya), berolah raga agar jantung kuat, menjauhi rokok agar paru-paru sehat, dan makan makanan berserat untuk membersihkan usus. Tak lupa pula kita mengurus tubuh kita supaya tampil wajar, sopan, dan menarik.

Tubuh yang dihormati dan dipelihara secara demikian memiliki kemungkinan berumur lebih panjang di dunia sehingga bisa berkarya lebih banyak. Karya-karya tubuh itu akan memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, Gereja, bahkan dunia.

Jadi, nyatalah bahwa tubuh adalah ciptaan Tuhan yang baik, dan kita patut menikmati fungsi-fungsinya, merawatnya, dan memakainya untuk menyalurkan kebaikan Tuhan kepada dunia. Semua itu akan membuat nama Tuhan dipermuliakan dan maksud-maksud Tuhan dilaksanakan oleh tubuh.

Kita selamanya bersyukur karena Sang Firman berkenan menjelma, mengenakan tubuh, dalam peristiwa Natal. Tindakan-Nya itu menyelamatkan kita dari kuasa dosa sekaligus mengingatkan kita bahwa tubuh dan Tuhan memiliki hubungan yang indah: tubuh untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh.

Helminton Sitanggang adalah seorang pegawai BUMN di bidang metalurgi yang bermukim di DKI Jakarta.

Catatan

1 “Brain: Learn more about the most complex organ in the human body” dalam situs National Geographic. <https://www.nationalgeographic.com/science/health-and-human-body/human-body/brain/>.

2 “Heart: The heart is one of the body’s most essential organs” dalam situs National Geographic.<https://www.nationalgeographic.com/science/health-and-human-body/human-body/heart/>.

3 “Lungs: Learn more about the human body’s respiratory system” dalam situs National Geographic.  <https://www.nationalgeographic.com/science/health-and-human-body/human-body/lungs/>. Alveolus adalah ceruk kecil yang merupakan unit dasar bagi pertukaran udara dalam paru-paru.

4 “Digestive System: Learn more about how we get energy from food” dalam situs National Geographic. <https://www.nationalgeographic.com/science/health-and-human-body/human-body/digestive-system/>.

5 Lihat A.J. Higgins. “A Christian Worldview: Your Body” dalam Truth & Tidings volume 67 nomor 1, Januari 2016. Dapat diakses di situs Truth & Tidings. <http://truthandtidings.com/2016/01/christian-worldview-your-body/>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *