Gusti Jamhar Akbar: Pesan Pantang Menyerah Maestro Lamut

Oleh Herdiana Situmorang

 

Seorang pria tua duduk bersila di lantai. Dari mulutnya melantun syair, pantun, dan cerita berbahasa Banjar. Sebuah tarbang (rebana) ditabuhnya dengan irama dinamis mengikuti lantunannya. Di hadapannya duduk para penonton dan tersaji berbagai makanan serta minuman. Pria tua itu adalah sang maestro lamut, Gusti Jamhar Akbar. Melalui kiprahnya dalam seni tutur khas Banjar ini, ia menyuarakan pesan pantang menyerah kepada kita semua.

Jamhar Akbar, yang lahir pada tahun 1942 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, telah balamut (memainkan seni lamut) sejak usia sepuluh tahun. Keahliannya dan kesetiaannya melestarikan seni lamut membuatnya dianugerahi gelar “maestro seni tradisi” oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI pada tahun 2009. Ayah, kakek, dan buyutnya dulu juga palamutan (pembawa cerita lamut). Profesi palamutan diteruskan secara turun-temurun dan hanya dilakoni oleh pria.2

Awalnya lamut adalah seni tutur asal Muangthai yang dibawa para pedagang Tionghoa ke Banjar pada awal abad ke-19. Seni tutur itu kemudian diserap dan dinamai “lamut”, dari kata-kata Arab laa dan mauta yang berarti “tidak mati” (tidak punah keberadaannya). Lamut biasa dimainkan dalam upacara pengobatan orang sakit dan pesta pernikahan, syukuran, atau khitanan. Lamut mencontohkan bagaimana seni bermanfaat menyampaikan ajaran (agama, moral, budaya) kepada masyarakat.3

Pak, pak, pung … Jamhar memulai lamut dengan menabuh tarbang. Irama tarbang, nada suara, dan roman mukanya berubah seturut cerita. Sesekali penonton tertawa dibuatnya. Ia hafal cerita-cerita lamut, bahkan sebagian darinya diramunya berdasarkan pengalaman hidup. Tak jarang ia sisipkan kritik, saran, dan pesan. Seorang palamutan memang harus kreatif agar penonton tak merasa bosan, apalagi dengan jam pentas yang panjang.4

Dulu, di tahun 1960-an sampai 1985, lamut sangat digemari. Jamhar bisa balamut hampir setiap hari semalam suntuk, bahkan diundang ke luar kota dan pulau. Tetapi sejak hiburan moderen berkembang, lamut makin terdesak. Sang maestro hanya berkesempatan balamut tiga kali sebulan dan paling lama lima jam. Meskipun begitu, ia pantang menyerah. Sampai sekarang, di usia senja, ia masih setia balamut di radio ataupun acara lainnya. Suatu kegigihan dalam berkarya yang layak ditiru.5

Sikap Jamhar yang pantang menyerah dalam menekuni lamut telah membuahkan berbagai prestasi dan penghargaan. Sebagai contoh, selain diberi gelar “maestro seni tradisi” oleh pemerintah, ia pernah menjadi pemenang kedua lomba seni lamut dari Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan 1980 dan meraih penghargaan seniman tradisional dari Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Banjarmasin 2006.6

Seperti sang maestro, sikap pantang menyerah sangat kita perlukan untuk menjadi “maestro” di bidang masing-masing. Sikap itu dapat kita terjemahkan dalam bentuk kesungguhan hati, kekreatifan, dan ketangguhan menekuni pekerjaan. Dengannya, karya kelas maestro yang bermutu tinggi, indah, dan unik akan kita hasilkan bagi keharuman nama bangsa.

Kini lamut Banjar tengah terancam punah. Di Banjarmasin tinggal Jamhar dan seorang rekannya yang menjadi palamutan. Pemerintah terus mendengungkan jargon “lestarikan budaya bangsa”, bahkan menganugerahkan gelar maestro, tetapi kurang berperan dalam merangsang munculnya palamutan baru. Jika jargon semacam itu tidak diimbangi dengan tindak nyata, hampir pasti nasib lamut tak seperti arti namanya.7

Hidup Gusti Jamhar Akbar, selaku maestro lamut, tidaklah banyak tersokong oleh kesenian itu. Ia tinggal di pemukiman padat dan hanya menerima honor pas-pasan dari balamut. Tampaknya lamut makin dianggap tak lagi relevan dengan selera hiburan masyarakat sekarang. Namun, alih-alih berputus asa, Jamhar terus balamut sekaligus melestarikannya. Nyatalah bahwa sikap pantang menyerah membentuk seorang maestro.8

Pak, pak, pung, pak, pak, pung, pak, pak, pung … Jamhar Akbar mengakhiri lamut dengan tabuhan tarbang. Meski tuturan lamutnya selesai di ujung pukulan tarbang, pesan kinerja pantang menyerah yang ia suarakan lewat kiprahnya hendaknya kita dengarkan.

 

Herdiana Situmorang adalah seorang dokter yang bermukim di DKI Jakarta.

 

Catatan

1 Penampilan Gusti Jamhar Akbar dapat dilihat di “Balamut–Gusti Jamhar Akbar” dalam situs Youtube. <https://www.youtube.com/watch?v=L-PVVrZT9GA>.

2 M. Syaifullah. “Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut” dalam situs Kompas. <http://nasional.kompas.com/read/2009/01/03/0110455/gusti.jamhar.akbar.tokoh.seni.lamut>; “Menbudpar Berikan Penghargaan Pada Maestro Kebudayaan” dalam situs Antara News. <http://www.antaranews.com/berita/145968/menbudpar-berikan-penghargaan-pada-maestro-kebudayaan>; Agus Yulianto. “Revitalisasi Kesenian Lamut di Kalimantan Selatan” dalam Naditira Widya, vol. 9, no. 2, Oktober 2015, hal. 138. Tulisan dapat diakses di <http://naditirawidya.kemdikbud.go.id/index.php/nw/article/view/125>.

3 Muhammad Jaruki. “Tradisi Lisan Banjarmasin, Kalimantan Selatan: Lamut” dalam situs Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. <http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1526>.

4 M. Syaifullah, “Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut”; Muhammad Jaruki, “Tradisi Lisan Banjarmasin, Kalimantan Selatan: Lamut”; Agus Yulianto, “Revitalisasi Kesenian Lamut di Kalimantan Selatan”, hal. 137.

5 M. Syaifullah, “Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut”.

6 M. Syaifullah, “Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut”.

7 M. Syaifullah, “Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut”; “Menbudpar Berikan Penghargaan Pada Maestro Kebudayaan”, Antara News.

8 M. Syaifullah, “Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *