Sengsara Mahkota Duri Membawa Nikmat Mahkota Kehidupan

Oleh Samsu Sempena

 

Pandanglah Yesus Kristus terduduk berbalut jubah merah tua sambil memegang sebatang buluh. Dua orang pria berdiri di dekatnya, masing-masing memegang buluh juga yang mereka gunakan untuk menekankan mahkota anyaman duri pada kepala-Nya. Begitu kuat tekanan itu sehingga leher-Nya tertekuk nyaris horizontal. Darah pun mulai mengucur di dahi-Nya. Wajah-Nya tampak menahan sakit sementara seorang tentara berbaju zirah mengawasi sengsara-Nya.

Pemandangan tragis itu digambarkan secara hidup dalam lukisan “Pemahkotaan dengan Duri” (Ing.: “The Crowning with Thorns”) karya Caravaggio (1571-1610). Pelukis Italia ini mendasarkan lukisannya pada kesaksian Alkitab bahwa tentara Romawi “menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala [Yesus]” (Mat. 27:29). Sangat menyakitkan, tentunya! Namun, sengsara akibat mahkota duri itu membawa nikmat mahkota kehidupan bagi kita.

Untuk meniru bentuk mahkota, tentara Romawi menganyam duri-duri secara melingkar. Duri-duri ini diperkirakan berasal dari pohon nubka, sejenis tumbuhan semak dengan duri-duri tajam dan panjang yang pastinya menimbulkan luka ketika dikenakan pada kepala Kristus.1 Mungkin saja tentara Romawi memasangnya dengan memakai alat penekan, seperti dalam lukisan Caravaggio.

Meskipun menderita karena mahkota duri (dan siksaan lainnya), Kristus taat kepada kehendak Allah untuk mati berkorban bagi manusia. “[S]ekali pun Ia adalah Anak,” kata penulis Kitab Ibrani, “Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:8). Sang “Anak Allah” (gelar-Nya sebagai Firman Allah yang menjelma) bertahan melewati cucuran darah dan olok-olok hingga dapat menuntaskan karya penebusan dosa dan menyerukan “sudah selesai” di kayu salib (Yoh. 19:30).

Ketaatan Kristus menjadi teladan bagi kita dalam menghadapi ujian hidup. Ujian itu dapat berupa cobaan yang secara khusus berkenaan dengan iman kita ataupun yang secara umum dialami manusia. Jika kita tahan uji, Allah akan memberi kita mahkota kehidupan (Yak. 1:12). Nikmat mahkota lambang kehormatan ini tentu saja bisa kita dapatkan karena Kristus telah membuka akses kita kepada Allah melalui sengsara mahkota duri.

Pengharapan akan nikmat mahkota kehidupan menyemangati kita bertahan terhadap berbagai godaan untuk berbuat tidak benar, mengikuti hawa nafsu, atau mengingkari iman. Pengharapan itu menguatkan kita apabila “mahkota duri” dipasangkan kepada kita meskipun kita sudah hidup lurus dan tidak ikut ambil bagian dalam kejahatan. Pengharapan itu juga menyemangati kita bertahan dalam perbuatan baik di bidang panggilan kita, sesuai dengan kecakapan kita.

Caravaggio memanfaatkan kecakapannya di bidang seni rupa. Ia membuat lukisan-lukisan berkelas dan “hidup” dengan memainkan kontras terang-gelap. Dalam “Pemahkotaan dengan Duri” kita dapat melihat kontras warna kulit Kristus yang terang halus dengan warna kulit para penyiksanya yang lebih gelap.2 Caravaggio seakan-akan ingin menonjolkan kemuliaan Kristus di tengah sengsara dan para penyengsara-Nya.

Sayangnya, Caravaggio, yang disebut sebagai salah satu bapak lukisan modern Eropa, tidak belajar taat seperti Kristus. Dia sering kalah oleh godaan untuk mabuk-mabukan, berjudi, bersikap kejam, bahkan pernah membunuh.3 Sangat disayangkan bahwa banyak orang Eropa zaman kini pun tidak tahan uji dalam hal kesetiaan kepada Allah. Mereka tergoda oleh berbagai isme yang memuliakan manusia dan menepiskan Allah. Mereka tidak lagi mengejar mahkota kehidupan.

Padahal budaya Eropa sejak lama telah identik dengan budaya Kristen. Ini pun terlihat dalam “Pemahkotaan dengan Duri”, ketika Caravaggio melukis baju zirah tentara dengan gaya baju zirah Eropa abad pertengahan. Lukisan semacam ini seharusnya mengilhami orang Kristen di mana-mana untuk mendaratkan kekristenan pada budayanya secara kreatif.

Saat ini Kristus yang telah melalui sengsara mahkota duri dan menang atas maut sedang duduk di surga bermahkotakan kemuliaan. Kita, para pengikut-Nya yang masih hidup di dunia, memusatkan perhatian kepada-Nya dan terus belajar untuk taat, walaupun ada penderitaan, hingga kelak dikaruniai nikmat mahkota kehidupan.

Samsu Sempena adalah seorang praktisi teknologi di bidang perjalanan yang bermukim di DKI Jakarta.

Catatan

1 “Crown of Thorns” dalam situs Bible History. <http://www.bible-history.com/sketches/ancient/crown-of-thorns.html>.

2 “The Crowning With Thorns” dalam situs Google Arts & Culture. <https://www.google.com/culturalinstitute/beta/asset/the-crowning-with-thorns/yAGZLO5MaPVjfQ?hl=en>.

3 “Caravaggio Biography” dalam situs Biography. <https://www.biography.com/people/caravaggio-9237777>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *