Sengsara

Salam di bulan ketiga 2018, rekan pembaca!

“Mesias harus menderita sengsara” adalah berita para nabi Israel lama sebelum Yesus yang disebut Kristus (yakni Mesias) datang. Sengsara itu harus diderita-Nya sebelum Ia “bangkit dari antara orang mati” dan “memberitakan terang” kepada segala bangsa (Kis. 26:22-23). Menjelang Jumat Agung dan Paskah, sungguh tepat jika perenungan tentang keharusan Mesias/Kristus menderita sengsara memenuhi benak kita, umat Kristen.

Komunitas Ubi (Kombi) merenungkan keharusan yang tragis-tapi-agung itu. Lima peladang menyusun lima tulisan perenungan dengan menampilkan alat-alat yang digunakan dalam penyengsaraan Kristus. Selain itu, kelimanya juga melibatkan lima lukisan tentang sengsara Kristus yang dibuat oleh lima seniman handal Eropa Barat, kawasan yang telah menelurkan banyak sekali karya seni-budaya kristiani.

Jubah ungu dan batang buluh diberikan tentara Romawi kepada Kristus untuk mengejek Dia yang telah dielu-elukan penduduk Yerusalem sebagai raja. Berdasarkan lukisan “Olok-olok terhadap Kristus” karya seniman Perancis, Edouard Manet, S.P. Tumanggor berbicara tentang sengsara Kristus dalam selubung jubah ungu.

Anyaman duri dikenakan tentara Romawi pada kepala Kristus, lagi-lagi untuk mengejek Dia yang telah dielu-elukan sebagai raja. Berdasarkan lukisan “Pemahkotaan dengan Duri” karya seniman Italia, Caravaggio, Samsu Sempena bertutur tentang sengsara makhota duri Kristus yang membawa nikmat mahkota kehidupan.

Cemeti Romawi yang mengerikan menyesah tubuh Kristus sebelum Ia dihukum mati. Berdasarkan lukisan “Pencambukan Kristus” karya seniman Spanyol, Jaume Huguet, Victor Samuel berbicara tentang sengsara Kristus dicambuk setengah mati.

Salib dan paku panjang dipakai tentara Romawi untuk menggantung tubuh Kristus di antara langit dan bumi sebagai hukuman mati-Nya. Berdasarkan lukisan “Yesus Dipaku ke Kayu Salib” karya seniman Jerman, Bertram dari Minden, Victor Sihombing bertutur tentang sengsara Kristus akibat brutalnya salib.

Tombak tajam ditikamkan tentara Romawi ke lambung Kristus pada kayu salib untuk memastikan bahwa Ia sudah mati. Berdasarkan lukisan “Penusukan Lambung Kristus” karya seniman Belgia, Simon Bening, Herdiana Situmorang berbicara tentang Kristus yang terkoyak tombak kesengsaraan.

Alasan di balik keharusan Mesias/Kristus menderita sengsara juga diungkapkan dalam kelima tulisan. Kombi berharap agar tulisan perenungan menjelang Jumat Agung dan Paskah ini dapat turut memompa apresiasi dan syukur kita kepada Kristus yang telah sengsara dan bangkit, sekaligus turut menyemangati berbagai pekerjaan baik kita yang merupakan penjabaran dari apresiasi dan syukur itu.

Selamat ber-Ubi.

Komunitas Ubi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *