Author Archives: Febroni Purba

Konstruksi Sasrabahu dan Berpikir Imajinatif

Oleh Febroni Purba Jam sepuluh malam, tanggal 27 Juli 1988, teknik konstruksi sasrabahuberhasil diterapkan pada proyek jalan layang Jakarta (Cawang sampai Tanjung Priok) yang dipimpin oleh Tjokorda Raka Sukawati. Konstruksi hasil berpikir imajinatif Raka itu memberi pilihan terbaik untuk mengerjakan jalan layang di perkotaan. Bahu beton jalan layang didirikan pada… Read more »

Kerajaan Media-Persia: “Mendiang” Penguasa Seperempat Dunia

Oleh Febroni Purba   “Aku adalah Koresh, raja dunia, raja yang besar, raja yang kuat, raja atas Babel, raja atas Sumeria dan Akadia, raja seperempat dunia.” Demikian kata-kata yang tersurat pada prasasti purba tentang Koresh II, penguasa dan pendiri kerajaan adikuasa Media-Persia.1 Meski Media-Persia dulu memang sangat berkuasa di bawah… Read more »

Toyohiko Kagawa: Penaruh Belas Kasihan kepada Orang Miskin

Oleh Febroni Purba “Siapa yang menindas orang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia” (Ams. 14:31). Sabda Alkitab ini rupanya sangat dipahami dan mewarnai hidup Toyohiko Kagawa, pekerja sosial, penginjil, pegiat perburuhan asal Jepang. Kepedulian sosialnya kepada kaum yang dipinggirkan dalam masyarakat telah membuatnya… Read more »

Bacaan Serius Pembangun Bangsa

Para pendahulu kita yang mendirikan Republik Indonesia adalah pelahap bacaan-bacaan serius, yakni buku-buku atau tulisan-tulisan yang berbobot dan mendalam. Mereka adalah orang-orang terpelajar yang merambah beragam bacaan “berat” tentang ekonomi, budaya, agama, sosial, politik, filsafat, dll. Alhasil mereka menjadi pintar, cerdas, kritis, dan mampu membangun bangsa sebesar Indonesia. Bacaan serius… Read more »

Belajar Kreatif dan Tangguh dari Suzuki

Oleh Febroni Purba Sejak tahun 2008, turnamen sepakbola negara-negara Asia Tenggara yang dulu bernama Piala Tiger berubah menjadi Piala Suzuki AFF (ASEAN Football Championship). Perusahaan Suzuki asal Jepang “menggusur” perusahaan bir Tiger asal Singapura sebagai sponsor utama kejuaraan yang selalu diikuti bangsa Indonesia itu. Ini menjadi salah satu contoh tentang… Read more »

PA dan Pembumian Alkitab

Oleh Febroni Purba dan Daniel Siahaan Mahasiswa Kristen, khususnya yang dibina dalam lembaga pemuridan Kristen atau Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), tentu sudah akrab dengan Pendalaman Alkitab (PA). PA sangat bermanfaat untuk membimbing mahasiswa mengenal Tuhan dan mengetahui Alkitab sebagai panduan hidupnya. Sayangnya, penerapan PA masih cenderung berkisar pada kegiatan rohani… Read more »

“Anak Cucumu Tetap Juga Melarat, Bukan?”

Oleh Febroni Purba Dalam cerpen terkenal karya A.A. Navis, “Robohnya Surau Kami,” kita mendapati kisah Saleh dan rekan-rekannya yang menggugat keputusan Tuhan memasukkan mereka ke neraka. Mereka berani—atau nekat—menggugat Tuhan karena merasa bahwa mereka sepantasnya dimasukkan ke surga, mengingat mereka taat beribadah sewaktu hidup di dunia. Namun, gugatan mereka rontok… Read more »

Mimbar Beku

Oleh Febroni Purba “Siapa yang berkhotbah Minggu ini? Semoga bukan pendeta X. Khotbahnya datar, panjang, dan membosankan.” Celetukan macam itu tak jarang terdengar di antara jemaat gereja—umumnya gereja arus utama. Khotbah mimbar gereja yang cenderung kaku, formal, dan tidak “hangat” memang cukup untuk memancing keluh-kesah jemaat (di luar jangkauan pendengaran… Read more »

Regenerasi dan Seleksi Atlet: Jalan Pengharuman Nama Bangsa

Oleh Febroni Purba Pertandingan olahraga adalah salah satu wahana hebat untuk mengharumkan nama bangsa di dunia. Ketika suatu bangsa mampu menang atas bangsa lain dalam pertandingan olahraga—atau lebih lagi: mampu menjadi juara dunia—maka harumlah nama bangsa pemenang itu. Sayangnya, kinerja olahraga Indonesia hari ini belum mampu mengharumkan nama Indonesia secara… Read more »

Mahasiswa Rakus Buku

Oleh Febroni Purba Mahasiswa Indonesia masa awal, yang kemudian menjadi para pendiri bangsa Indonesia, adalah orang-orang yang rakus buku sehingga cerdas dan berkarya besar. Akibatnya, di umur 29 tahun, Sukarno bisa menuliskan Indonesia Menggugat, pembelaannya yang terkenal di hadapan pengadilan kolonial Belanda. Di usia 24 tahun, Moh. Hatta bisa menghasilkan… Read more »