Oleh S.P. Tumanggor Menjelang ujung tahun 2012, satu koran nasional menurunkan sebuah artikel yang membenturkan fakta kekayaan alam Indonesia dengan fakta ketidakmakmuran rakyat Indonesia. Artikel tersebut mengatakan, antara lain, “Begitu besar kekayaan ini sehingga jika dikelola sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945, tingkat kemakmuran rakyat Indonesia… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor “I’ll be home for Christmas/You can count on me/Please have snow and mistletoe/And presents on the tree.”1 Meski sama sekali tidak bermuatan rohani atau alkitabiah, lagu syahdu asal AS itu telah kerap menyemarakkan suasana Natal. Pertama kali direkam di tahun 1943, I’ll Be Home for Christmas melesat… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor “Lain padang, lain belalangnya.” Penggalan peribahasa mashur itu tepat menggambarkan fakta bahwa di negeri-negeri (“padang”) yang berbeda terdapat adat/kebiasaan (“belalang”) yang berbeda juga.1 Dan makna ini tepat pula jika diluaskan melampaui adat/kebiasaan dan diterapkan kepada Gereja, khususnya Gereja Indonesia. Melampaui adat/kebiasaan, “padang-padang” alias negeri-negeri yang berbeda juga… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor “Pengajaran dan hidupnya Kristus itu lain dirasa kalau lain negerinya. Ini dibuktikan riwayat Masehi di beberapa benua.”1Ujaran Johanes Leimena di tahun 1928 itu mengungkap pemahaman mendalam yang, sayangnya, langka dipahami orang Kristen Indonesia masa kini: lain padang, lain belalangnya, lain pula pengalamannya. Hebatnya lagi, Leimena melontarkan ujarannya… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Yudi Miftahudin tak pernah bermimpi menjadi bintang filem, apalagi sampai meraih Anugerah Filem Indonesia 2012 sebagai pemeran anak terbaik. Tetapi itulah yang terjadi. Ia dinilai bagus memerankan tokoh Amek dalam Serdadu Kumbang, filem yang mengusung topik pendidikan sambil mempertontonkan kerancakan alam Pulau Sumbawa. Ketika wartawan menanyakan untuk siapa… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Kartun Mice di koran Kompas edisi hari Minggu suka menyoroti secara jenaka pelbagai hal dan fenomena yang mengemuka di tengah masyarakat. Satu kali yang menjadi sorotannya adalah filem seri alias sinetron di televisi Indonesia. Dari total enam panel kartun, satu di antaranya menampilkan kartun dengan komentar “Tokoh… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Penjajahan punya kesejajaran dengan paku yang dicacakkan di dinding. Paku di sini melambangkan bangsa penjajah (dalam kasus Indonesia: kuartet Eropa—Portugis, Inggris, Perancis, Belanda—plus Jepang) sedang dinding melambangkan bangsa jajahan. Waktu paku itu dicabut, bekasnya tetap ada di dinding. Inilah lambang “luka batin” yang ditinggalkan bangsa penjajah pada… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Sudah jadi hukum alam dan hukum ilahi bahwa orang yang lebih muda (junior) harus menghormati orang yang lebih tua (senior)—apalagi yang jauh lebih tua. Tidak ada budaya dan agama besar di dunia yang tidak memaklumi atau menganjurkan hal itu. Dalam Alkitab pun Allah berfirman kepada umat-Nya, “Engkau… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Kisah “bentrok” Ayub dengan ketiga sahabatnya masih punya buntut. Karena Ayub tetap berkeras dengan pemahamannya, ketiga sahabat pun terdiam seribu bahasa. Saat itulah Elihu, seorang junior lain—lebih junior dari Ayub malah—mengambil kesempatan untuk bicara. Elihu “marah terhadap Ayub, karena ia [Ayub] menganggap dirinya lebih benar daripada Allah,… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Kekreatifan adalah roda-roda penggerak kemajuan. Olehnya berbagai hal bisa diolah dengan sentuhan unik—tidak klise atau monoton—sebagai wujud pemanfaatan “barang” luar biasa yang Tuhan karuniakan kepada kita: otak. Jadi, kekreatifan selalu karib dengan keluarbiasaan. Orang dan bangsa yang kreatif menjadi orang dan bangsa yang luar biasa. “Menurut saya,… Read more »