Oleh S.P. Tumanggor “The cock does crow/To let you know/If you be wise/This time to rise/For early to bed/And early to rise/Is the way to be healthy/And wealthy and wise.”1 Sajak Inggris itu lancar meluncur dari mulut mungil anak sulung saya ketika ia baru berusia enam tahunan. Bersama banyak sajak… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor “Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.”1 Demikian bunyi sebuah pepatah gubahan Salomo, penguasa Israel abad ke-10 SM. Raja bijaksana yang suka mengamati serba-serbi kehidupan itu menggarisbawahi suatu kebenaran sosial yang lestari—dulu dan kini tetap benar. Tetap benar bahwa kekayaan mudah memikat teman, dari teman… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Lembaga-lembaga paragereja,1 khususnya yang membina umat Kristen dengan pola pemuridan, telah berjasa besar terhadap kekristenan. Betapa tidak? Lembaga-lembaga itu mengobarkan semangat orang Kristen terhadap perkara-perkara ilahi dan mengingatkan bahwa manusia hidup bukan dari nasi saja tetapi juga dari firman Allah. Begitu besar jasanya sampai-sampai seorang rekan saya… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Di Indonesia, ketupat sudah jadi identik dengan Lebaran, hari raya umat Islam. Ketupat menunjukkan bahwa Islam telah membumi di Nusantara. Di Arabia sendiri, tanah asal Islam, orang tidak ber-Lebaran dengan ketupat. Sebagai orang Indonesia yang Kristen, saya mendapati bahwa ketupat sebagai unsur budaya bisa dimaknai pula dengan… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Kalau Porong tidak diluapi lumpur, mungkin saya tak akan pernah mengunjungi kawasan permai di Kecamatan Bumiaji, Malang. Waktu itu, tahun 2006, saya dan beberapa rekan harus pulang ke Bandung dengan kereta api dari Surabaya seusai beracara di Batu, Malang. Karena jalur Malang-Surabaya terhambat di Porong, kami dibawa… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor DI TANAH TIMOR TEMPO DULU, kalau seorang anak bangsawan lahir, warga biasa menyanyikan bonet1 untuknya. Salah satu bonet itu berbunyi: Bonken monit noi sonfan enon/Kumamet monit noi sonfan enon/… Fomene pahe oke.2 Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bunyinya adalah: Pandan wangi tumbuh di depan pintu istana/Tumbuh… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Tahun 2004, dua tahun sebelum buku perdana saya terbit, sepasang suami istri Kristen asal Amerika Serikat mengajak saya bersantap siang di restoran. Mereka baru saya kenal kira-kira setahun, namun tanpa terduga—sembari menikmati hidangan—mereka membuka obrolan soal bakat menulis saya. Waktu itu saya sedang terlibat dalam suatu projek… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Dari kenangan berkumpul bersama para pemuda di masa perjuangan di Yogyakarta, Liberty Manik (1924-1993) menggubah lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang elegan itu.1 “Dan lagu itu akan abadi,” ujar Jansen Sinamo, guru etos asal Dairi, Sumatera Utara, daerah kelahiran Manik. “Selama Indonesia masih ada di bumi lagu… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Saya menyebut mereka generasi cukup-dengar-lihat. Mereka tumbuh menjamur di zaman informasi dan digital hari ini. Mereka turut berperan, sadar atau tidak, dalam menumbangkan angka minat baca Indonesia ke titik terendah di Asia Tenggara.1 Liliek Sulistyowati dari Perpustakaan Nasional RI mengangguk di depan gambaran itu. Ia menyebut “pengaruh… Read more »
Oleh S.P. Tumanggor Tahun 2010 menutup usia dua pria yang seharusnya bisa jadi pahlawan bangsa Indonesia. Saya katakan “seharusnya bisa” sebab pilihan hidup telah membawa mereka ke jalan yang lain, meski tanpa meniadakan ketokohan mereka sedikit pun. Keduanya berasal dari kutub-kutub Indonesia, satu di barat, satu di timur. Dalam banyak… Read more »