Mendewasa Karena Mewawas

Oleh Samsu Sempena

Sejak terlibat dalam Komunitas Ubi (Kombi) di tahun 2012, saya telah mempelajari dan menuliskan banyak topik dalam bingkai keindonesiaan dan kekristenan. Sejak saat itu Kombi telah menjadi wadah pendewasaan pikiran bagi saya karena kegiatan penulisannya yang kaya wawasan. Saya mendapati bahwa semakin sering dan mahir kita mewawas—meneliti, meninjau, mengamati—berbagai hal, pikiran kita bisa semakin mendewasa.

Secara khusus saya merasa Kombi mematangkan pandangan saya tentang keindonesiaan dan kekristenan. Wawasan saya meluas sewaktu meneliti dan meninjau sumber-sumber, mengamati dan menalar data-data, untuk membuat tulisan-tulisan yang baik. Sejauh ini dan sebelum tulisan ini, sudah 15 tulisan yang saya buat di Kombi dan yang membantu mendewasakan pikiran saya.

Pikiran saya didewasakan untuk mengenali rupa-rupa masalah yang dihadapi Indonesia sewaktu saya membuat tulisan-tulisan bertajuk “KTP-e Kemerdekaan Teknologi Perlu Eskalasi”,1 “Anatomi Indonesia Harus Berimbang”,2 “Dialog Atasan Bawahan: Budaya Menyelesaikan dan Mencegah Masalah”,3 dan “Kolam Air Soda Tarutung: Wisata Unik Harusnya Tanpa Panik”.4 Saya mendapat wawasan tentang banyaknya pekerjaan rumah untuk membangun Indonesia.

Agar pekerjaan rumah tersebut dapat dikerjakan dengan baik, pastilah diperlukan etos kerja yang baik pula. Pikiran saya didewasakan untuk belajar etos kerja yang baik sewaktu menyusun tulisan-tulisan berjudul “Aksara Jawa”,5 “Garca Sumatera: Gambar Tahan Lama”,6 dan “Mak Coppong: Kekonsistenan Maestro Pakarena”7. Saya memperoleh wawasan tentang kekreatifan dan kekonsistenan yang penting untuk mengatasi masalah pembangunan negeri.

Meskipun menghadapi berbagai masalah, negeri kita memiliki banyak potensi hebat. Pikiran saya didewasakan untuk mensyukuri hal-hal baik dari Indonesia sewaktu menggubah tulisan-tulisan bertajuk “Rindu Buah Indonesia di Jepang”,8 “Jelajah Keindahan Indonesia”,9 dan “TKI Membanggakan Indonesia di Dunia”.10 Wawasan saya meluas dan saya melihat bahwa Indonesia punya modal SDM dan SDA yang mumpuni.3

Orang Kristen Indonesia, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, harus turut menjadi SDM andal bagi pembangunan bangsa. Pikiran saya didewasakan untuk menyadari peran penting kita itu ketika menulis “Menentang Kecurangan yang Terencana, Sistematis, dan Masif”11 dan “William Wilberforce: Pembuka Belenggu Perbudakan”.12 Wawasan saya bertambah dan saya melihat bahwa kesalehan haruslah mewujud dalam peran di tengah bangsa.

Kesalehan kristiani juga mesti diwujudkan dengan meneladani Kristus dalam hidup kita. Pikiran saya didewasakan untuk mengapresiasi penderitaan Kristus yang dipribumikan dalam karya seni ketika menulis “Tsougrisma dan Seruan Menang Tanding”13 dan “Sengsara Mahkota Duri Membawa Nikmat Mahkota Kehidupan”.14 Terbukalah bagi saya wawasan tentang pengharapan mulia di balik kematian ataupun tentang penderitaan yang mungkin dialami umat Allah dalam hidup di bumi.

Pengharapan itu telah menolong umat Allah bertahan melampaui masa sulit, misalnya aniaya di bawah kuasa Kerajaan Romawi. Pikiran saya didewasakan dalam pengharapan akan pemerintahan Allah ketika menulis “Kerajaan Romawi: Setengah Milenium Berkuasa Akhirnya Runtuh Juga”.15 Tersingkaplah bagi saya wawasan bahwa suatu bangsa dapat meraih kekuasaan sebesar-besarnya namun tidak untuk selama-lamanya. Hanya kuasa Allah yang kekal abadi.

Meluaskan wawasan, mendewasa karena mewawas, sangatlah penting dan akan menjadikan kita arif. Kearifan dapat membantu kita memahami dan mengatasi permasalahan pribadi, keluarga, bangsa, bahkan dunia secara mangkus dan sangkil. Alhasil kita menjadi insan-insan yang bermanfaat dalam kehidupan.

Ketika mewawas, kita memerlukan hikmat untuk membedakan apa yang tepat dan apa yang tidak tepat. Menurut Kitab Suci, hikmat berkaitan erat dengan kecerdasan, pengetahuan, dan kebijaksanaan (Ams. 8:12). Jadi, mewawas tanpa hikmat (tetapi dengan emosi belaka atau pikiran sempit) akan mengarahkan kita kepada cara-cara atau praktik-praktik yang tidak cerdas, tidak berpengetahuan, dan tidak bijaksana. Akibatnya, permasalahan bukannya selesai malahan bertambah runyam.

Saya menyadari bahwa perjalanan mewawas saya belumlah terlalu panjang. Karena itu, saya berharap dapat menulis lebih banyak lagi di Kombi dan di manapun demi meluaskan wawasan saya lebih lagi. Saya juga berharap bahwa tulisan-tulisan saya dapat turut meluaskan wawasan dan mendewasakan pembacanya—untuk Tuhan dan untuk Indonesia!

 

Samsu Sempena adalah seorang praktisi teknologi di bidang perjalanan yang bermukim di DKI Jakarta.

 

Catatan

1 Samsu Sempena. “KTP-e: Kemerdekaan Teknologi Perlu Eskalasi” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2012/08/ktp-e-kemerdekaan-teknologi-perlu-eskalasi/>.

2 Samsu Sempena. “Anatomi Indonesia Harus Berimbang” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2015/10/anatomi-indonesia-harus-berimbang/>.

3 Samsu Sempena. “Dialog Atasan-Bawahan: Budaya Menyelesaikan dan Mencegah Masalah” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2016/02/dialog-atasan-bawahan-budaya-menyelesaikan-dan-mencegah-masalah/>.

4 Samsu Sempena. “Kolam Air Soda Tarutung Wisata Unik Harusnya Tanpa Panik” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2017/02/kolam-air-soda-tarutung-wisata-unik-harusnya-tanpa-panik/>.

5 Samsu Sempena. “Aksara Jawa” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2014/09/aksara-jawa/>.

6 Samsu Sempena. “Garca Sumatera: Gambar Tahan Lama” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2016/07/garca-sumatera-gambar-tahan-lama/>.

7 Samsu Sempena. “Mak Coppong: Kekonsistenan Maestro Pakarena” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2017/09/mak-coppong-kekonsistenan-maestro-pakarena/>.

8 Samsu Sempena. “Rindu Buah Indonesia di Jepang” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2013/03/rindu-buah-indonesia-di-jepang/>.

9 Samsu Sempena. “Jelajah Keindahan Indonesia” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2017/10/jelajah-keindahan-indonesia/>.

10 Samsu Sempena. “TKI Membanggakan Indonesia di Dunia” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2016/04/tki-membanggakan-indonesia-di-dunia/>.

11 Samsu Sempena. “Menentang Kecurangan yang Terencana, Sistematis, dan Masif” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2015/01/menentang-kecurangan-yang-terencana-sistematis-dan-masif/>.

12 Samsu Sempena. “William Wilberforce: Pembuka Belenggu Perbudakan” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2017/07/william-wilberforce-pembuka-belenggu-perbudakan/>.

13 Samsu Sempena. “Tsougrisma dan Seruan Menang Tanding” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2017/04/tsougrisma-dan-seruan-menang-tanding/>.

14 Samsu Sempena. “Sengsara Mahkota Duri Membawa Nikmat Mahkota Kehidupan” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2018/03/sengsara-mahkota-duri-membawa-nikmat-mahkota-kehidupan/>.

15 Samsu Sempena. “Kerajaan Romawi Setengah Milenium Berkuasa Akhirnya Runtuh Juga” dalam situs Kombi. <http://komunitasubi.com/2018/01/kerajaan-romawi-setengah-milenium-berkuasa-akhirnya-runtuh-juga/>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *